
Polisi Myanmar Tembakkan Peluru Karet ke Arah Massa

Yangon, (Antara/Reuters) - Kepolisian Myanmar menembakkan peluru-peluru karet untuk membubarkan kerumunan pengikut Buddha dan warga Muslim yang terlibat dalam bentrok di Mandalay, kota terbesar kedua di negara itu, Rabu. Kepolisian mengerahkan lebih 600 personel setelah kerumunan massa yang berjumlah sekitar 300 pengikut Buddha termasuk 30 biksu mulai melempar batu-batu dekat satu toko teh milik seorang pria Muslim pada pukul 11 pagi waktu setempat Selasa, tulis satu pernyataan yang disiarkan kepolisian Mandalay. "Seorang personel polisi, tiga pengikut Buddha dan seorang Muslim terluka terkena lemparan batu dalam insiden itu," tulis pernyataan tersebut. "Dua di antara pria yang cedera dari kelompok pengikut Buddha menerima perawatan di rumah sakit Mandalay dan sisanya menerima rawat jalan." Kepolisian menyatakan mereka melepaskan tiga peluru karet dalam usaha mengendalikan kerumunan, yang membubarkan diri sekitar pukul 3:15 dini hari Rabu setelah para biku membantu meyakinkan orang-orang untuk pulang ke rumah masing-masing. Lebih 200 orang telah meninggal dan sedikitnya 140.000 terdampar dalam kekerasan sektarian sejak Juni 2012. Sebagian besar korban berasal dari penduduk minoritas yang beragama Islam. Seorang saksi mata yang tinggal di wilayah yang sebagian besar warga Muslim mengatakan satu kerumunan pengikut Buddha berkumpul di Mandalay setelah tersebar desas-desus bahwa pemilik satu toko teh memperkosa seorang wanita Buddha. Kepolisian Mandalay membenarkan dalam pernyataan bahwa dakwaan telah diajukan terhadap pemilik toko itu. Mereka menyatakan mereka telah menempatkan toko itu di bawah pengawasan setelah menerima informasi bahwa akan diserang. Personel polisi berdiri di natara dua kelompok yang bentrok dan berusaha menghalau para pengikut Buddha, kata saksi mata itu yang minta jati dirinya tak disebutkan. "Polisi dan kerumunan massa berkelahi dan massa melempar batu-batu ke arah polisi," katanya. Dia mengatakan massa pengikut Buddha menyerang toko-toko dan membakar kendaraan sebelum polisi mengendalikan keadaan, tetapi pada pukul 6 waktu setempat para pengikut Buddha masih berkeliaran sambil berteriak-teriak. Pasukan keamanan Myanmar digunakan oleh bekas junta militer untuk menumpas unjuk rasa pro demokrasi. Mereka dikritik karena gagal mencegah kekerasan anti Muslim yang pecah sejak pemerintah reformis naik ke tampuk kekuasaan pada 2011. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
