
Presiden Sudan Selatan - Pemberontak Setujui Batas Waktu Pemerintah Baru

Addis Ababa, (Antara/AFP) - Presiden Sudan Selatan dan pemimpin pemberontak Selasa berunding dalam usaha mengakhiri perang saudara enam bulan, sepakat untuk membentuk pemerintah peralihan dalam batas waktu 60 hari, kata perdana menteri Ethiopia. "Mereka setuju menyelesaikan proses dialog dalam 60 hari ke depan tentang bagaimana, kapan dan siapa ... bagi pembentukan pemerintah peralihan," kata PM Ethiopia Hailemariam Desalegn, setelah pertemuan antara Presiden Salva Kiir dan pemimpin pemberontak Riek Machar serta para pemimpin kawasan itu. Para penengah, yang frustrasi akibat gagalnya kesepakatan-kesepakatan sebelumnya termasuk dua gencatan senjata, mengancam akan melakukan tindakan tegas jika kedua pihak yang bertikai kembali mengabaikan perjanjian-perjanjian yang dicapai. "Setiap usaha untuk mengabaikan perdamaian akan menghadapi konsekuensi-konsekuensi," kata Hailemariam memperingatkan. Krisis di negara muda itu telah menewaskan ribuan orang dan memaksa lebih dari 1,3 juta orang meninggalkan rumah-rumah mereka. Baik Kiir maupun Machar juga setuju untuk "melaksanakan sepenuhnya janji mereka yang telah ditandatangai dalam perjanjian-perjanjian," kata Hailemariam. Kiir dan Machar bertemu di sela-sela satu pertemuan para pemimpin kawasan itu di Addis Ababa yang diselenggatrakan blok Afrika Tumur IGAD, yang menengai perundingan-perundingan yang berjalan alot itu. "Jika mereka tidak menaati perjanjian ini... IGAD sebagai satu organisasi akan bertindak untuk melaksanakan perdamaian," kata Hailemariam,memperingatakan kemungkinan "sanksi-sanksi dan tindakan-tindakan hukum" tanpa merinci lebih jauh. Utusan Amerika Serikat untuk Sudan Selatan Donald Booth mengatakan perundingan-perundingan memberikan "peluang terakhir dan terbaik bagi kedua pihak yang berperang untuk membuktikan komitmen mereka untuk mengurus negara dan rakyat mereka secara bersama". Itu adalah pertemuan pertama dari kedua pihak yang bermusuhan sejak penandatanganan gencatan senjata 9 Mei -- yang dilanggar beberapa jam kemudian -- dan pertemuan kedua sejak perang saudara yang dimulai pertengahan Desember tahun lalu. "Waktu bagi aksi militer untuk mengubah status quo di lapangan telah berlalu. Kini saatnya untuk bergerak maju," tambah Booth, yang berbicara pada pembukaan KTT itu. Delegasi-delegasi Kiir dan Machar bertemu di hotel-hotel mewah di ibu kota Ethiopia itu sejak Januari, dengan kedua pihak bercekcok menyangkut agenda dan bahkan tempat diskusi-diskusi. Perundingan-perundingan perdamaian sebelumnya tidak banyak membuat kemajuan dan berulang-ulang ditunda, sejauh ini telah mengeluarkan biaya 17 juta dolar AS, kata pejabat IGAD. Sebelumnya, para penengah menyatakan kemarahan yang menyakitkan hati kepada kedua pihak, menuduh merka berusaha memperoleh kemenangan militer ketimbang satu perundingan untuk menghentikan perang saudara itu. Mahboub Maalim, sekretaris eksekutif IGAD mengatakan Kiir dan Machar "bodoh" jika mereka berpikir mereka akan dapat menang di medan tempur. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
