Pesisir Selatan perkuat kapasitas petani lewat Sekolah Lapang
Kamis, 10 Oktober 2024 13:42 WIB
Kepala Dinas Pertanian Pesisir Selatan Madrianto
Painan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat berkomitmen membangun kapasitas petani lewat Sekolah Lapang (SL) demi keberlanjutan program pertanian yang berkelanjutan.
Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Madrianto menyampaikan ketersediaan sumber daya yang mumpuni merupakan jawaban terhadap pentingnya peningkatan produktivitas petani, di tengah kian menyusutnya lahan pertanian akibat berbagai faktor.
"Ini mesti kita sadari sejak dini. Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas tentu sulit bagi kita untuk bersaing," ujar Madrianto di Painan, (10/10).
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan sejak 2021 telah menerapkan sekolah lapang pada ribuan petani seperti di sub-sektor tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan sub+sektor hortikultura.
Sekolah lapang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026 yang mengedepankan pembangunan kualitas sumber daya manusia daerah.
Madrianto melanjutkan petani kini tidak hanya sebagai subjek semata, tapi sekaligus menjadi objek pembangunan pertanian agar berdaya saing tangguh. Apalagi pertanian merupakan urat nadi perekonomian daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi lapangan usaha pertanian tercatat sebagai penyumbang paling besar pada Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Pesisir Selatan setiap tahunnya, 35-40 persen.
"Sekolah lapang memungkinkan bagi petani mampu menggunakan teknologi secara efektif guna meningkatkan produktivitas," terangnya.
Selain itu sambungnya guna mengakselerasi peningkatan kesejahteraan keluarga petani, karena mayoritas penduduk miskin di Pesisir Selatan merupakan keluarga petani dan nelayan.
Dalam perjalanannya Sekolah Lapang di Pesisir Selatan menunjukkan capaian positif, terbukti dari peningkatan produksi seperti padi, jagung dan sejumlah komoditi unggulan lainnya.
Selain itu juga terkonfirmasi dari Nilai Tukar Petani (NTP) pada seluruh sub-sektor yang nilai indeksnya di atas 100, bahkan produksi gabah Pesisir Selatan tercatat paling besar di Sumatera Barat.
"Ya, itu sejak 2023. Pesisir Selatan mampu mengungguli dominasi Solok yang selama ini selalu menjadi leader," tuturnya.
Menurutnya persoalan kesejahteraan petani karena rendahnya produktivitas. Kondisi itu merupakan dampak dari masih terbatasnya kapasitas sebagian besar pelaku di lapangan usaha pertanian.
Dirinya optimis program sekolah lapang secara berkelanjutan mampu menjawab tantangan sektor primer yang digadang sebagai motor utama perekonomian menuju kemandirian daerah.
Selain itu pemerintah kabupaten mendukung percepatan industrialisasi berbagai komoditi unggulan lokal, sehingga memberikan nilai tambah demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Membantu petani mengelola sumber daya alam melalui program berkelanjutan, sehingga kesinambungan dan keseimbangannya tetap terjaga.
"Tentu dengan keberlanjutan keberhasilan pembangunan itu bakal terwujud," ujarnya optimis.
Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Madrianto menyampaikan ketersediaan sumber daya yang mumpuni merupakan jawaban terhadap pentingnya peningkatan produktivitas petani, di tengah kian menyusutnya lahan pertanian akibat berbagai faktor.
"Ini mesti kita sadari sejak dini. Tanpa sumber daya manusia yang berkualitas tentu sulit bagi kita untuk bersaing," ujar Madrianto di Painan, (10/10).
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan sejak 2021 telah menerapkan sekolah lapang pada ribuan petani seperti di sub-sektor tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan sub+sektor hortikultura.
Sekolah lapang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026 yang mengedepankan pembangunan kualitas sumber daya manusia daerah.
Madrianto melanjutkan petani kini tidak hanya sebagai subjek semata, tapi sekaligus menjadi objek pembangunan pertanian agar berdaya saing tangguh. Apalagi pertanian merupakan urat nadi perekonomian daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi lapangan usaha pertanian tercatat sebagai penyumbang paling besar pada Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Pesisir Selatan setiap tahunnya, 35-40 persen.
"Sekolah lapang memungkinkan bagi petani mampu menggunakan teknologi secara efektif guna meningkatkan produktivitas," terangnya.
Selain itu sambungnya guna mengakselerasi peningkatan kesejahteraan keluarga petani, karena mayoritas penduduk miskin di Pesisir Selatan merupakan keluarga petani dan nelayan.
Dalam perjalanannya Sekolah Lapang di Pesisir Selatan menunjukkan capaian positif, terbukti dari peningkatan produksi seperti padi, jagung dan sejumlah komoditi unggulan lainnya.
Selain itu juga terkonfirmasi dari Nilai Tukar Petani (NTP) pada seluruh sub-sektor yang nilai indeksnya di atas 100, bahkan produksi gabah Pesisir Selatan tercatat paling besar di Sumatera Barat.
"Ya, itu sejak 2023. Pesisir Selatan mampu mengungguli dominasi Solok yang selama ini selalu menjadi leader," tuturnya.
Menurutnya persoalan kesejahteraan petani karena rendahnya produktivitas. Kondisi itu merupakan dampak dari masih terbatasnya kapasitas sebagian besar pelaku di lapangan usaha pertanian.
Dirinya optimis program sekolah lapang secara berkelanjutan mampu menjawab tantangan sektor primer yang digadang sebagai motor utama perekonomian menuju kemandirian daerah.
Selain itu pemerintah kabupaten mendukung percepatan industrialisasi berbagai komoditi unggulan lokal, sehingga memberikan nilai tambah demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Membantu petani mengelola sumber daya alam melalui program berkelanjutan, sehingga kesinambungan dan keseimbangannya tetap terjaga.
"Tentu dengan keberlanjutan keberhasilan pembangunan itu bakal terwujud," ujarnya optimis.
Pewarta : Teddy Setiawan
Editor : Siri Antoni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
GAW Kototabang gelar Sekolah Lapang Iklim Tematik bersama Pemkot Bukittinggi
18 November 2025 10:47 WIB
Bupati Rusma Yul Anwar lakukan Temu Teknologi Sekolah Lapang Padi di Gapoktan Langong Koto Barapak
04 June 2024 12:49 WIB, 2024
BMKG terapkan teknologi MTOT di Sekolah Lapang Iklim Padang Pariaman
14 September 2023 11:50 WIB, 2023
Sekolah lapang iklim operasional mampu tingkatkan kuantitas pertanian di Solok
02 August 2023 11:13 WIB, 2023
LPM Kelurahan Tanah Lapang Sawahlunto masuk enam besar terbaik Provinsi
22 August 2022 21:08 WIB, 2022
Pertanian dan perikanan terancam La Nina akhir 2021, BMKG: Hujan lebat rusak tanaman, nelayan tak bisa melaut
29 October 2021 5:45 WIB, 2021
Nelayan diminta waspadai potensi cuaca ekstrem jelang peralihan musim
22 September 2021 10:23 WIB, 2021