BPTU Padang Mengatas murnikan genetik sapi plasma nutfah Sumbar
Senin, 3 Juli 2023 9:44 WIB
Expo Peternakan Penas Tani XVI di Sumbar ikut tampilkan sapi pesisir yang menjadi plasma nutfah Sumbar. (ANTARA/Miko Elfisha)
Padang (ANTARA) - Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas melakukan pemurnian terhadap genetik dari sapi pesisir yang merupakan plasma nutfah Sumatera Barat.
"Proses pemurnian genetik ini sudah kita mulai sejak 2013 hingga sekarang," kata Pengawas Bibit Ternak Muda BPTU-HPT Padang Mengatas Rifqi Elfajri di Padang, Senin.
Ia mengatakan saat ini genetik sapi pesisir yang dipelihara oleh masyarakat sudah tidak murni karena proses kawin campur secara alamiah yang tidak terpantau oleh pemilik.
Anak sapi yang lahir dari kawin campur tersebut menjadi tidak jelas asal-usulnya secara genetik, bahkan potensi "inbreeding" atau kawin sedarah menjadi tinggi.
Efek negatif dari "inbreeding" itu, menurutnya, terjadi penurunan kualitas sapi, salah satunya dari ukuran tubuh sapi yang makin lama semakin kecil.
"Karena itu sejak 2013, kita mulai menjaring sapi pesisir dari masyarakat. Kita lakukan pengembangan. Saat anak sapi lahir, kita seleksi dan kembangkan kembali," katanya.
Ia menyebut dari awalnya berjumlah 50 ekor, saat ini jumlah sapi pesisir di BPTU-HPT Padang Mengatas sudah mencapai 500 ekor dan sebagian telah disebar kepada masyarakat.
Menurutnya, dari usaha sekitar 10 tahun itu, proses pemurnian sapi pesisir di BPTU-HPT Padang Mengatas sudah mencapai 70 persen.
"Prosesnya akan kita lanjutkan hingga hasilnya mendekati 100 persen," ujarnya.
Oleh karena proses pemurnian genetik sapi pesisir itu masih 70 persen, pihaknya belum melakukan inseminasi buatan dan masih mempertahankan perkawinan secara alamiah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar Sukarli menyebut sapi pesisir sudah diakui sebagai plasma nutfah dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2908/Kpts/OT.140/6/2011 tentang Penetapan Rumpun Sapi Pesisir.
Sapi jenis itu memiliki keunggulan mudah beradaptasi dengan lingkungan serta memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi sehingga menguntungkan pemilik sapi.
Pemprov Sumbar mendukung upaya pemurnian genetik sapi pesisir tersebut karena keberadaannya juga memenuhi ketersediaan sumber protein hewani bagi masyarakat Sumbar bahkan hingga provinsi tetangga.
Ia mengatakan sapi pesisir jantan dewasa umur 4-6 tahun memiliki bobot badan 186 kg dengan tinggi 99 cm.
Saat ini populasi sapi pesisir ditemukan di Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kota Padang, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
"Proses pemurnian genetik ini sudah kita mulai sejak 2013 hingga sekarang," kata Pengawas Bibit Ternak Muda BPTU-HPT Padang Mengatas Rifqi Elfajri di Padang, Senin.
Ia mengatakan saat ini genetik sapi pesisir yang dipelihara oleh masyarakat sudah tidak murni karena proses kawin campur secara alamiah yang tidak terpantau oleh pemilik.
Anak sapi yang lahir dari kawin campur tersebut menjadi tidak jelas asal-usulnya secara genetik, bahkan potensi "inbreeding" atau kawin sedarah menjadi tinggi.
Efek negatif dari "inbreeding" itu, menurutnya, terjadi penurunan kualitas sapi, salah satunya dari ukuran tubuh sapi yang makin lama semakin kecil.
"Karena itu sejak 2013, kita mulai menjaring sapi pesisir dari masyarakat. Kita lakukan pengembangan. Saat anak sapi lahir, kita seleksi dan kembangkan kembali," katanya.
Ia menyebut dari awalnya berjumlah 50 ekor, saat ini jumlah sapi pesisir di BPTU-HPT Padang Mengatas sudah mencapai 500 ekor dan sebagian telah disebar kepada masyarakat.
Menurutnya, dari usaha sekitar 10 tahun itu, proses pemurnian sapi pesisir di BPTU-HPT Padang Mengatas sudah mencapai 70 persen.
"Prosesnya akan kita lanjutkan hingga hasilnya mendekati 100 persen," ujarnya.
Oleh karena proses pemurnian genetik sapi pesisir itu masih 70 persen, pihaknya belum melakukan inseminasi buatan dan masih mempertahankan perkawinan secara alamiah.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar Sukarli menyebut sapi pesisir sudah diakui sebagai plasma nutfah dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2908/Kpts/OT.140/6/2011 tentang Penetapan Rumpun Sapi Pesisir.
Sapi jenis itu memiliki keunggulan mudah beradaptasi dengan lingkungan serta memiliki kemampuan reproduksi yang tinggi sehingga menguntungkan pemilik sapi.
Pemprov Sumbar mendukung upaya pemurnian genetik sapi pesisir tersebut karena keberadaannya juga memenuhi ketersediaan sumber protein hewani bagi masyarakat Sumbar bahkan hingga provinsi tetangga.
Ia mengatakan sapi pesisir jantan dewasa umur 4-6 tahun memiliki bobot badan 186 kg dengan tinggi 99 cm.
Saat ini populasi sapi pesisir ditemukan di Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kota Padang, dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Pewarta : Miko Elfisha
Editor : Jefri Doni
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
11 Pejabat strategis Pemkab Pesisir Selatan dilantik, Bupati dorong terobosan baru
06 January 2026 10:16 WIB
Tim kesehatan DPP PDI Perjuangan tembus kampung yang sempat terisolasi di Pesisir Selatan
05 January 2026 13:26 WIB
Sepanjang 2025, Kejari Pesisir Selatan Tangani 276 SPDP dan Tuntaskan 145 Perkara
03 January 2026 6:46 WIB
Dirjen PKP Tinjau Lokasi Pembangunan Huntap Korban Bencana di Pesisir Selatan
27 December 2025 5:20 WIB
Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni serahkan 77 unit traktor roda empat untuk brigade pangan
22 December 2025 11:13 WIB
Berdialog dengan korban bencana, Rektor UNAND beri keringanan UKT bagi mahasiswa terdampak
22 December 2025 7:16 WIB