Lubukbasung (ANTARA) -
Harga pinang dan karet di Koto Tinggi, Palembayan, Kabupaten, Sumatera Barat anjlok semenjak dua tahun yang lalu, sehingga petani setempat tidak memanen karena biaya mengolah tidak sebanding dengan harga jual. 
 
Wali Jorong Koto Tinggi, Mulyadi di Lubukbasung, Sabtu, mengatakan saat ini harga pinang sebesar Rp3 ribu per kilogram dan harga karet Rp6 ribu per kilogram. 
 
"Harga pinang dan keret tersebut turun semenjak dua tahun lalu dan saya tidak mengetahui penyebabnya," katanya. 
 
Ia mengatakan, harga pinang tersebut turun sebanyak lima kali dengan harga sebelumnya Rp12 ribu per kilogram, menjadi Rp9 ribu per kilogram, Rp7 ribu per kilogram, Rp6 per kilogram dan sekarang Rp3 ribu per kilogram. 
 
Sementara harga sebelumnya Rp15 ribu per kilogram, turun menjadi Rp10 ribu per kilogram dan sekarang Rp6 ribu per kilogram. 
 
"Harga hasil kebun turun sangat jauh, sehingga petani tidak ada yang memanen, karena biaya mengolah atau tenaga keluarkan tidak sebanding dengan harga jual," katanya. 
 
Ia mengakui, dengan turunnya harga tersebut maka produksi pinang dan karet berkurang di daerah itu, karena petani tidak ada yang memanen. 
 
Sebelumnya produksi pinang mencapai 15 ton per bulannya dari luas lahan tiga ribu hektare dan sekarang hanya ratusan kilogram per bulan. 
 
Begitu juga untuk karet dengan produksi mencapai enam ton per bulan dan kini hanya ratusan kilogram per bulan. 
 
"Petani hanya mengumpulkan pinang yang jatuh dan mereka mengalihkan usaha ke palawija berupa jahe, jagung dan cabai merah," katanya. 
 
Salah seorang petani, Naini menambahkan hanya mengolah pinang yang jatuh disekitar pohon dan dikumpulkan. 
 
"Pinang yang kering sekitar dua kilogram per minggu langsung saya jual kepada pengumpul," katanya. 

Pewarta : Yusrizal
Editor : Siri Antoni
Copyright © ANTARA 2024