Sebulan terakhir 60 ekor sapi warga Tanjungmutiara mati mendadak, diduga diserang ini
Rabu, 29 September 2021 20:35 WIB
Kepala Dinas Pertanian Agam, Arief Restu. (Antarasumbar/Yusrizal)
Lubuk Basung (ANTARA) - Sekitar 60 ekor sapi milik warga Nagari Tiku Lima Jorong, Kecamatan Tanjungmutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat mati secara mendadak diduga diserang virus jembrana semenjak satu bulan terakhir.
Wali Nagari Tiku Lima Jorong, Mardios di Lubukbasung, Rabu, mengatakan saat ini sekitar 60 ekor sapi jenis bali milik warga dilaporkan mati secara mendadak.
"Kondisi ini terjadi semenjak satu bulan lalu dan telah kita laporkan ke petugas Puskeswan," katanya.
Ia menambahkan, sapi jenis bali yang mati tersebut dengan ciri-ciri nafsu makan hilang, berkeringat darah, sesak nafas, demam dan keluar darah dari anus.
Bangkai sapi ini sudah dikubur warga di sekitar lokasi matinya sapi tersebut.
"Saya mengimbau warga untuk memisahkan sapi mereka agar tidak tertular," katanya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Agam, Arief Restu menambahkan penyebab kematian sapi secara mendadak itu diduga akibat virus jembrana.
"Ini sesuai hasil pemeriksaan petugas di lapangan dan ditemukan tanda-tanda virus itu," katanya.
Ia mengakui, virus jembrana menyerang organ dalam dan berbagai organ tubuh termasuk pendarahan pada kulit, sehingga pada saat dipotong organ dalam sudah rusak.
Penyakit ini biasanya menyerang sapi bali dewasa rata-rata usia tiga sampai empat tahun.
Sedangkan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit jembrana berupa suhu badan sapi tinggi, pembengkakan hebat kelenjar limfe, erosi luka-luka pada selaput lendir mulut, diare yang sering bercampur darah dan sering terjadi sapi mengalami berkeringat darah.
Wali Nagari Tiku Lima Jorong, Mardios di Lubukbasung, Rabu, mengatakan saat ini sekitar 60 ekor sapi jenis bali milik warga dilaporkan mati secara mendadak.
"Kondisi ini terjadi semenjak satu bulan lalu dan telah kita laporkan ke petugas Puskeswan," katanya.
Ia menambahkan, sapi jenis bali yang mati tersebut dengan ciri-ciri nafsu makan hilang, berkeringat darah, sesak nafas, demam dan keluar darah dari anus.
Bangkai sapi ini sudah dikubur warga di sekitar lokasi matinya sapi tersebut.
"Saya mengimbau warga untuk memisahkan sapi mereka agar tidak tertular," katanya.
Sementara Kepala Dinas Pertanian Agam, Arief Restu menambahkan penyebab kematian sapi secara mendadak itu diduga akibat virus jembrana.
"Ini sesuai hasil pemeriksaan petugas di lapangan dan ditemukan tanda-tanda virus itu," katanya.
Ia mengakui, virus jembrana menyerang organ dalam dan berbagai organ tubuh termasuk pendarahan pada kulit, sehingga pada saat dipotong organ dalam sudah rusak.
Penyakit ini biasanya menyerang sapi bali dewasa rata-rata usia tiga sampai empat tahun.
Sedangkan gejala yang ditimbulkan oleh penyakit jembrana berupa suhu badan sapi tinggi, pembengkakan hebat kelenjar limfe, erosi luka-luka pada selaput lendir mulut, diare yang sering bercampur darah dan sering terjadi sapi mengalami berkeringat darah.
Pewarta : Yusrizal
Editor : Hendra Agusta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemkab Agam kerahkan dua alat berat bersihkan material longsor timbun jalan
12 February 2026 12:01 WIB
Belasan rumah warga Agam terendam banjir akibat curah hujan tinggi (Video)
12 February 2026 4:32 WIB
Pemkab Agam bebaskan PBB-P2 wajib pajak terdampak bencana hidrometeorologi
11 February 2026 10:27 WIB
Proses pengadaan kendaraan dinas kepala daerah Agam dimulai pada Oktober 2025
09 February 2026 12:50 WIB
Polri bangun dua jembatan bailey di Agam permudah akses warga pascabencana
07 February 2026 13:40 WIB
TP PKK Pusat salurkan 500 paket bantuan ke warga terdampak bencana di Agam
06 February 2026 17:16 WIB