Seperti apa kedekatan Bung Karno dengan Muhammadiyah
Selasa, 9 Juni 2020 14:36 WIB
Tangkapan layar Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti saat menjadi narasumber pada webinar atau pertemuan virtual 'Pancasila dan Keadilan Sosial' yang diselenggarakan DPP PDI Perjuangan (PDIP) dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno, di Jakarta, Selasa (9/6/2020). (ANTARA/Syaiful Hakim)
Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menyebutkan, Presiden pertama RI sekaligus proklamator kemerdekaan, Soekarno memiliki kedekatan dengan kelompok Islam, seperti Muhammadiyah karena adanya kesamaan pandangan mengenai kesejahteraan masyarakat.
"Saya kira Muhammadiyah dan PDIP ini dipertemukan dalam satu concern yang sama pembelaan kepada kaum dhuafa," kata Mu'ti saat menjadi narasumber pada webinar atau pertemuan virtual 'Pancasila dan Keadilan Sosial' yang diselenggarakan DPP PDI Perjuangan (PDIP) dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno, di Jakarta, Selasa.
Atau dalam bahasa PDIP (kaum dhuafa) adalah kaum marhaen.
"Dan kita dipertemukan oleh sosok yang sama yaitu Bung Karno sebagai seorang kader yang sangat berkelanjutan dalam pemikiran-pemikiran ke- Islamannya dan seorang pejuang bangsa yang tidak pernah kita ragukan sebagaimana kecintaannya kepada Tanah Air kita Indonesia," ujarnya.
Menurut Mu'ti, kedekatan itu rupanya mewarisi kepada anak-anak Bung Karno. Megawati Soekarnoputri yang juga Presiden RI kelima, dianggap tidak hanya anak kandung biologis Soekarno, tapi mewarisi apa yang diturunkan Soekarno dalam bentuk ideologi.
Bahkan, lanjut Mu'ti, istri Bung Karno yang tak lain ibunda dari Megawati, Fatmawati, merupakan warga tulen Muhammadiyah.
"Sebenarnya ada banyak chemistry bisa menjadi titik masuk untuk PDIP bisa lebih bekerja sama dan bersinergi dengan Muhammadiyah. Saya tadi malam, mengikuti acara Haul Pak Taufiq Kiemas yang juga menghadirkan Pak Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Dan karena itu kami berterima kasih kepada panitia khususnya kepada Pak Djarot dan Mas Hasto. Saya sering menyebut pak Djarot sebagai pak Gubernur, karena selama masa beliau Muhammadiyah yang berkantor di Menteng Raya bisa terus berkembang," tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, menyatakan sejak awal ideologi bangsa ini digali sebagai ideologi keberpihakan. Yang diartikan bahwasanya supaya manusia Indonesia merdeka dan membebaskan dari belenggu penjajahan.
Salah satu tujuan utama Pancasila yakni keadilan sosial dalam bidang ekonomi yang dianggap belum terwujud sepenuhnya. Dan itu kemudian diturunkan agar adil secara politik, adil di bidang hukum, dan adil di bidang ekonomi.
"Praktis Pancasila dalam kehidupan berbangsa, instrumen terminalnya adalah keadilan itu. Suatu pijakan yang visioner, namun menyentuh hal yang paling hakiki setiap manusia terjajah yakni rasa keadilan," tutur Hasto.
"Saya kira Muhammadiyah dan PDIP ini dipertemukan dalam satu concern yang sama pembelaan kepada kaum dhuafa," kata Mu'ti saat menjadi narasumber pada webinar atau pertemuan virtual 'Pancasila dan Keadilan Sosial' yang diselenggarakan DPP PDI Perjuangan (PDIP) dalam rangka peringatan Bulan Bung Karno, di Jakarta, Selasa.
Atau dalam bahasa PDIP (kaum dhuafa) adalah kaum marhaen.
"Dan kita dipertemukan oleh sosok yang sama yaitu Bung Karno sebagai seorang kader yang sangat berkelanjutan dalam pemikiran-pemikiran ke- Islamannya dan seorang pejuang bangsa yang tidak pernah kita ragukan sebagaimana kecintaannya kepada Tanah Air kita Indonesia," ujarnya.
Menurut Mu'ti, kedekatan itu rupanya mewarisi kepada anak-anak Bung Karno. Megawati Soekarnoputri yang juga Presiden RI kelima, dianggap tidak hanya anak kandung biologis Soekarno, tapi mewarisi apa yang diturunkan Soekarno dalam bentuk ideologi.
Bahkan, lanjut Mu'ti, istri Bung Karno yang tak lain ibunda dari Megawati, Fatmawati, merupakan warga tulen Muhammadiyah.
"Sebenarnya ada banyak chemistry bisa menjadi titik masuk untuk PDIP bisa lebih bekerja sama dan bersinergi dengan Muhammadiyah. Saya tadi malam, mengikuti acara Haul Pak Taufiq Kiemas yang juga menghadirkan Pak Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Dan karena itu kami berterima kasih kepada panitia khususnya kepada Pak Djarot dan Mas Hasto. Saya sering menyebut pak Djarot sebagai pak Gubernur, karena selama masa beliau Muhammadiyah yang berkantor di Menteng Raya bisa terus berkembang," tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, menyatakan sejak awal ideologi bangsa ini digali sebagai ideologi keberpihakan. Yang diartikan bahwasanya supaya manusia Indonesia merdeka dan membebaskan dari belenggu penjajahan.
Salah satu tujuan utama Pancasila yakni keadilan sosial dalam bidang ekonomi yang dianggap belum terwujud sepenuhnya. Dan itu kemudian diturunkan agar adil secara politik, adil di bidang hukum, dan adil di bidang ekonomi.
"Praktis Pancasila dalam kehidupan berbangsa, instrumen terminalnya adalah keadilan itu. Suatu pijakan yang visioner, namun menyentuh hal yang paling hakiki setiap manusia terjajah yakni rasa keadilan," tutur Hasto.
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Universitas Bung Hatta dan UMT Gelar International Lecture Series Bahas Eko-Arkeologi Maritim di Kawasan Konservasi Laut
23 December 2025 11:17 WIB
Tim mahasiswa TEK Universitas Bung Hatta juara 3 Best Performing Group IWICME 2025 di Malaysia
09 December 2025 16:03 WIB
Perkuat SDM vokasi hingga Pascasarjana, LLDIKTI Wilayah X serahkan 7 SK Prodi
15 October 2025 10:14 WIB
Buka PKKMB UBH, Wako Fadly Amran ingatkan mahasiswa harus adaptif dengan perubahan
11 September 2025 13:03 WIB
Universitas Bung Hatta raih akreditasi Institusi Unggul, PTS unggul pertama di LLDIKTI Wilayah X
15 August 2025 14:51 WIB