Baqaiq, Arab Saudi (ANTARA) - Ketika 18 'drone' menghantam fasilitas pemrosesan minyak terbesar dunia di Arab Saudi Sabtu lalu, ratusan orang yang mendapat giliran kerja malam langsung bergerak cepat memadamkan kobaran api.

Dalam kegelapan dini hari mereka tiba dalam hitungan menit setelah serangan di pabrik Baqaiq dan satu serangan lain yang hampir bersamaan di Khurais, ladang minyak terbesar kedua di dunia.

Sepekan pascaserangan, yang menggempur jantung industri energi Arab Saudi sekaligus meningkatkan pertempuran selama puluhan tahun dengan musuhnya Iran, raksasa minyak negara Aramco membuka situs tersebut untuk media internasional pada Jumat guna mengevaluasi kerusakan serta upaya perbaikan.



Riyadh dan Washington menyalahkan serangan tersebut terhadap Iran, yang membantah keterlibatan apa pun. Mereka menolak klaim tanggung jawab oleh kelompok al Houthi Yaman yang bersekutu Iran.

Perwakilan Aramco mengatakan kepada awak media tentang kronologis serangan dan apa yang akan dilakukan perusahaan minyak terbesar dunia itu untuk mengembalikan produksi ke level sebelum serangan saat pihaknya merencanakan IPO.

Rudal menghujani Khurais sejak 0331 hingga 0348, ungkap Fahad Abdulkarim, manajer umum untuk operasi minyak wilayah selatan. Pemadam kebakaran meluncur ke lokasi kejadian dan berhasil memadamkan dua kebakaran dalam waktu lima menit.

"Saat mereka mencapai lokasi, serangan susulan juga mendarat di fasilitas tersebut," katanya. Dua kebakaran lainnya membutuhkan waktu pemadaman hingga lebih dari lima jam.

Ledakan di Abqaiq padam setelah tujuh jam, kata wakil presiden Khalid Buraik.



Aramco mengatakan akan mengembalikan produksi minyak mentah ke level semula sebelum serangan di dua fasilitas hingga akhir September ini.

Serangan Khurais merusak infrastruktur pipa utama. Bagian yang rusak diperlihatkan untuk kamera yang memiliki lubang dengan ukuran peluru hingga kepalan tangan

Abdulkarim menyebutkan kebakaran mengubah minyak di dalam pipa menjadi batu bara hitam yang menutupi sebagian besar tanah di dekatnya, namun pada Jumat, hanya menyisakan tumpukan puing kecil.

Pesawat tanpa awak (drone) menggempur Abqaiq, pabrik berusia 70 tahun, hingga meninggalkan lubang selebar satu meter melalui bagian atas kontainer dan tiang pipa yang tinggi.

Ribuan pekerja bekerja keras sepanjang waktu untuk memperbaiki kerusakan. Pada beberapa struktur, lubang menganga sedang dilakukan penambalan namun struktur lainnya harus diganti total, kata wakil perusahaan.

Kerugian total - baik dalam biaya kerusakan properti maupun kerugian finansial - mungkin dirahasiakan.



Sumber: Reuters

Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor : Ikhwan Wahyudi
Copyright © ANTARA 2024