Kualitas udara di Riau makin buruk
Sabtu, 7 September 2019 11:37 WIB
Arsip Foto. Petugas memadamkan kebakaran lahan di dekat permukiman penduduk di Pekanbaru, Riau, Kamis (5/9/2019). Asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang makin meluas menurunkan kualitas udara di daerah-daerah di Provinsi Riau. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/hp.
Pekanbaru (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan bahwa 154 titik panas indikasi awal kebakaran hutan dan lahan pada Sabtu tersebar di wilayah Provinsi Riau, yang kualitas udaranya kian memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan.
Analis BMKG Stasiun Pekanbaru Ahmad Agus Widodo mengatakan, titik panas Riau tersebar di delapan wilayah kabupaten, paling banyak di Pelalawan (60) disusul Indragiri Hulu (42) dan Indragiri Hilir (34).
Selain itu, titik panas juga terpantau di Bengkalis (tiga), Meranti (enam), Kampar (dua), Kuansing (lima), serta Rokan Hilir (dua).
Dari 154 titik panas yang ada di Riau, menurut Agus, 97 di antaranya merupakan titik api, indikasi kuat kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan 70 persen hingga 100 persen.
Titik api tersebar di Pelalawan (45), Indragiri Hulu (25), Indragiri Hilir (19), Kuansing (satu), Meranti (tiga), Rokan Hilir (dua), dan Bengkalis (dua).
Riau merupakan penyumbang titik panas terbanyak di Pulau Sumatera, yang pada Sabtu dirubung 448 titik panas.
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda beberapa kabupaten dan kota di Riau serta provinsi tetangga membuat kualitas udara di Bumi Lancang Kuning memburuk.
Data Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) dengan parameter PM10 di laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa pada Sabtu pagi ISPU mayoritas daerah di Riau dalam kategori tidak sehat. ISPU Kabupaten Rokan Hilir dan Pekanbaru bahkan masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Analis BMKG Stasiun Pekanbaru Ahmad Agus Widodo mengatakan, titik panas Riau tersebar di delapan wilayah kabupaten, paling banyak di Pelalawan (60) disusul Indragiri Hulu (42) dan Indragiri Hilir (34).
Selain itu, titik panas juga terpantau di Bengkalis (tiga), Meranti (enam), Kampar (dua), Kuansing (lima), serta Rokan Hilir (dua).
Dari 154 titik panas yang ada di Riau, menurut Agus, 97 di antaranya merupakan titik api, indikasi kuat kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan 70 persen hingga 100 persen.
Titik api tersebar di Pelalawan (45), Indragiri Hulu (25), Indragiri Hilir (19), Kuansing (satu), Meranti (tiga), Rokan Hilir (dua), dan Bengkalis (dua).
Riau merupakan penyumbang titik panas terbanyak di Pulau Sumatera, yang pada Sabtu dirubung 448 titik panas.
Asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda beberapa kabupaten dan kota di Riau serta provinsi tetangga membuat kualitas udara di Bumi Lancang Kuning memburuk.
Data Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) dengan parameter PM10 di laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa pada Sabtu pagi ISPU mayoritas daerah di Riau dalam kategori tidak sehat. ISPU Kabupaten Rokan Hilir dan Pekanbaru bahkan masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Pewarta : Anggi Romadhoni
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Prediksi pertandingan BRI Super League pekan ke-13, laga panas Malut United vs Persita
23 November 2025 8:12 WIB
Tim Unand beri edukasi bahaya paparan panas bagi petani gambir di Pesisir Selatan
19 November 2025 21:07 WIB
Dinamika atmosfer picu suhu panas di Sumbar, warga diimbau banyak minum air putih
02 November 2025 10:15 WIB
Terpopuler - Siaga Bencana
Lihat Juga
Menteri PU tiga hari pantau rehab-rekon daerah terdampak bencana di Sumbar
29 January 2026 15:58 WIB
23 personel Marinir menjadi korban dalam bencana tanah longsor di Bandung Barat
26 January 2026 20:24 WIB
Duka daerah tetangga "Kota Kembang", 80 korban longsor di Cisarua masih dicari
25 January 2026 12:23 WIB
TNI-BNPB kebut pengerjaan huntara bagi warga terdampak tanah bergerak Sumbar
23 January 2026 22:26 WIB
Presiden Prabowo tegaskan bencana Sumatera tak nasional, tapi ditangani serius
01 January 2026 14:47 WIB
Dana untuk bangun kembali daerah terdampak bencana dialokasikan, ini penjelasan Purbaya
30 December 2025 16:34 WIB