Polri target teror 2017-2018
Selasa, 20 Agustus 2019 16:04 WIB
Direktur Program dan Riset The Habibie Center, Muhammad Hasan Ansori, dalam diskusi dan peluncuran buku "Memberantas Terorisme di Indonesia: Praktik, Kebijakan, dan Tantangan" di Jakarta, Selasa (20/8/2019). (Antara Foto/Syaiful Hakim)
Jakarta (ANTARA) - Hasil kajian yang dilakukan oleh The Habibie Centre menyebutkan Polri menjadi target utama serangan terorisme pada tahun 2017-2018.
"Hampir 74 persen serangan terorisme di Indonesia pada tahun 2017-2018 menjadikan polisi sebagai target serangan utama," kata Direktur Program dan Riset The Habibie Center, Muhammad Hasan Ansori, dalam diskusi dan peluncuran buku "Memberantas Terorisme di Indonesia: Praktik, Kebijakan, dan Tantangan" di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, target serangan terorisme di Indonesia mengalami perubahan. Sebelum menyasar anggota polisi, beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa orang asing dan fasilitas yang dimiliki orang asing menjadi target serangan terorisme.
Ia mencontohkan, perubahan target serangan terorisme bisa terlihat dari penyerangan Polsek Wonokromo Surabaya oleh terduga teroris pada Sabtu (17/8).
"Serangan terorisme di Wonokoromo itu membuka mata dan memperlihatkan tren terkini bahwa polisi menjadi target serangan teroris, bukan orang asing maupun fasilitas orang asing lagi," papar Hasan.
Selain polisi, lanjutnya, target serangan teroris lainnya adalah masyarakat sebesar 11 persen, fasilitas agama (5 persen), dan target serangan lainnya (10 persen).
"Akan tetapi, jumlah ketiga sasaran ini tidak signifikan jika dibandingkan dengan polisi," ujarnya.
Dikatakannya, dalam indeks kerentanan radikalisme di Indonesia yang dikeluarkan oleh Lazuardi Birru pada 2011, terdapat tiga provinsi yang dinilai paling rentan terhadap radikalisme dan terorisme, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Jabar dan Banten.
"Hampir 74 persen serangan terorisme di Indonesia pada tahun 2017-2018 menjadikan polisi sebagai target serangan utama," kata Direktur Program dan Riset The Habibie Center, Muhammad Hasan Ansori, dalam diskusi dan peluncuran buku "Memberantas Terorisme di Indonesia: Praktik, Kebijakan, dan Tantangan" di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, target serangan terorisme di Indonesia mengalami perubahan. Sebelum menyasar anggota polisi, beberapa studi sebelumnya menunjukkan bahwa orang asing dan fasilitas yang dimiliki orang asing menjadi target serangan terorisme.
Ia mencontohkan, perubahan target serangan terorisme bisa terlihat dari penyerangan Polsek Wonokromo Surabaya oleh terduga teroris pada Sabtu (17/8).
"Serangan terorisme di Wonokoromo itu membuka mata dan memperlihatkan tren terkini bahwa polisi menjadi target serangan teroris, bukan orang asing maupun fasilitas orang asing lagi," papar Hasan.
Selain polisi, lanjutnya, target serangan teroris lainnya adalah masyarakat sebesar 11 persen, fasilitas agama (5 persen), dan target serangan lainnya (10 persen).
"Akan tetapi, jumlah ketiga sasaran ini tidak signifikan jika dibandingkan dengan polisi," ujarnya.
Dikatakannya, dalam indeks kerentanan radikalisme di Indonesia yang dikeluarkan oleh Lazuardi Birru pada 2011, terdapat tiga provinsi yang dinilai paling rentan terhadap radikalisme dan terorisme, yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Jabar dan Banten.
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Berkontribusi di bidang iptek dan inovasi, empat ilmuwan terima Anugerah Habibie Prize 2022
10 November 2022 11:52 WIB, 2022
Masjid Terapung BJ Habibie siap tampung 1.000 jamaah dan jadi objek wisata religi di Parepare
27 January 2022 12:35 WIB, 2022
Presiden Jokowi tabur bunga di makam Habibie hingga pahlawan tak dikenal
10 November 2021 10:45 WIB, 2021
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Antisipasi pencurian kendaraan bermotor selama Ramadhan, Satreskrim Polres Dharmasraya optimalkan ini
12 February 2026 16:44 WIB