Tanam pohon untuk mitigasi bencana di Pantai Padang, ini pesan kepala BNPB
Jumat, 29 Maret 2019 21:17 WIB
Kepala BNPB Doni Monardo bersama Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit meninjau penanaman pohon pelindung di Pantai Padang pada Jumat (29/3) (Antara Sumbar/ Nia)
Padang, (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo meninjau penanaman pohon cemara jenis udang di Danau Cimpago, Purus, Padang, Sumatera Barat pada Jumat .
Perwira tinggi berdarah Minang tersebut melakukan peninjauan langsung penanaman bibit pohon dalam rangka penghijauan mitigasi bencana setelah sebelumnya menghadiri rapat koordinasi di Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat.
“Dalam penanaman pohon untuk mitigasi bencana kita mesti antusias dan semangat, karena kegunaan pohon ini ke depan bermanfaat untuk melindungi keselamatan generasi penerus yang akan datang,” katanya.
“Apalagi, penanaman pohon yang ada di pesisir pantai ini membantu dalam penanggulangan bencana karena dapat meminimalkan risiko bencana yang lebih besar karena dapat menahan gelombang air jika suatu saat terjadi tsunami,” tambahnya.
Ia mengatakan menanam pohon ini merupakan bentuk dari kesiap siagaan dalam menghadapi bencana dilihat dari kejadian di beberapa provinsi yang ada di Indonesia yang sifatnya cenderung berulang.
“Contohnya pengulangan seperti tsunami Aceh, itu ribuan tahun, kemudian di Pandeglang Banten, lalu di Sulawesi Tengah itu puluhan tahun. Di Padang ini pernah ada peristiwa tsunami ratusan tahun yang lalu. Sampai sekarang tidak ada lagi kejadian. Namun, tentunya kita tetap harus mempersiapkan diri, sebab peristiwa alam ini akan berulang menurut pakar,” katanya.
Maka dari itu, ia berharap pengulangan bencana tidak terjadi dalam waktu dekat, tetapi cepat atau lambat pasti akan terjadi. Oleh karenanya menanam pohon menjadi sebuah cara agar mengurangi korban dengan melakukan mitigasi.
“Ini upaya kita untuk mencegah supaya kekuatan air laut atau tsunami itu tidak masuk ke daratan dengan cepat. Karena jika tanpa pohon, begitu ada gempa besar dan tsunami yang di atas lima meter itu, menurut hasil riset air laut bisa mencapai 2,5 kilometer masuk ke daratan. Kalau ini terjadi dan kita tidak berusaha semaksimal mungkin, tentu sudah diprediksi korban cukup banyak,” ujarnya.
Di kesempatan itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit mengimbau seluruh masyarakat, terutama masyarakat di pesisir pantai untuk peduli dengan pohon yang sudah di tanam tersebut karena di masa yang akan datang, pohon tersebut akan memberikan manfaat yang besar sebagai mitigasi bencana.
“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di tepi pantai untuk peduli dan menjaga kelangsungan hidup pohon yang telah di tanam. Mohon tingkatkan kepedulian dengan menyiram atau bahkan memberikan pupuk agar bisa tumbuh dengan subur dan menjadi mitigasi bencana sebagaimana yang kita harapkan,” ujarnya.
Perwira tinggi berdarah Minang tersebut melakukan peninjauan langsung penanaman bibit pohon dalam rangka penghijauan mitigasi bencana setelah sebelumnya menghadiri rapat koordinasi di Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat.
“Dalam penanaman pohon untuk mitigasi bencana kita mesti antusias dan semangat, karena kegunaan pohon ini ke depan bermanfaat untuk melindungi keselamatan generasi penerus yang akan datang,” katanya.
“Apalagi, penanaman pohon yang ada di pesisir pantai ini membantu dalam penanggulangan bencana karena dapat meminimalkan risiko bencana yang lebih besar karena dapat menahan gelombang air jika suatu saat terjadi tsunami,” tambahnya.
Ia mengatakan menanam pohon ini merupakan bentuk dari kesiap siagaan dalam menghadapi bencana dilihat dari kejadian di beberapa provinsi yang ada di Indonesia yang sifatnya cenderung berulang.
“Contohnya pengulangan seperti tsunami Aceh, itu ribuan tahun, kemudian di Pandeglang Banten, lalu di Sulawesi Tengah itu puluhan tahun. Di Padang ini pernah ada peristiwa tsunami ratusan tahun yang lalu. Sampai sekarang tidak ada lagi kejadian. Namun, tentunya kita tetap harus mempersiapkan diri, sebab peristiwa alam ini akan berulang menurut pakar,” katanya.
Maka dari itu, ia berharap pengulangan bencana tidak terjadi dalam waktu dekat, tetapi cepat atau lambat pasti akan terjadi. Oleh karenanya menanam pohon menjadi sebuah cara agar mengurangi korban dengan melakukan mitigasi.
“Ini upaya kita untuk mencegah supaya kekuatan air laut atau tsunami itu tidak masuk ke daratan dengan cepat. Karena jika tanpa pohon, begitu ada gempa besar dan tsunami yang di atas lima meter itu, menurut hasil riset air laut bisa mencapai 2,5 kilometer masuk ke daratan. Kalau ini terjadi dan kita tidak berusaha semaksimal mungkin, tentu sudah diprediksi korban cukup banyak,” ujarnya.
Di kesempatan itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit mengimbau seluruh masyarakat, terutama masyarakat di pesisir pantai untuk peduli dengan pohon yang sudah di tanam tersebut karena di masa yang akan datang, pohon tersebut akan memberikan manfaat yang besar sebagai mitigasi bencana.
“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di tepi pantai untuk peduli dan menjaga kelangsungan hidup pohon yang telah di tanam. Mohon tingkatkan kepedulian dengan menyiram atau bahkan memberikan pupuk agar bisa tumbuh dengan subur dan menjadi mitigasi bencana sebagaimana yang kita harapkan,” ujarnya.
Pewarta : Famella Putriadi
Editor : Ikhwan Wahyudi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polres Padang Panjang tanam pohon dan apresiasi guru berprestasi pada Hardiknas 2026
05 May 2026 17:53 WIB
Dispar: Tingkat kunjungan wisata ke Pasaman Barat selama libur Lebaran 131.715 orang
31 March 2026 18:11 WIB
Seorang warga Dharmasraya meninggal tertimpa pohon sawit replanting PT Bina
25 February 2026 15:45 WIB
Terpopuler - Siaga Bencana
Lihat Juga
Sumbar butuh skuadron SAR sebagai mitigasi bencana, legislator Sumbar paparkan alasannya
25 February 2026 20:56 WIB
Menteri PU tiga hari pantau rehab-rekon daerah terdampak bencana di Sumbar
29 January 2026 15:58 WIB
23 personel Marinir menjadi korban dalam bencana tanah longsor di Bandung Barat
26 January 2026 20:24 WIB
Duka daerah tetangga "Kota Kembang", 80 korban longsor di Cisarua masih dicari
25 January 2026 12:23 WIB