Respon terhadap bencana kurang, LPBI: pemerintah perlu didik masyarakat
Sabtu, 12 Januari 2019 6:07 WIB
Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU, Muhammad Ali Yusuf. (cc)
Jakarta, (Antaranews Sumbar) - Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU) Muhammad Ali Yusuf mengatakan pemerintah perlu secara teratur menyosialisasikan kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat sehingga kesadaran masyarakat terhadap bencana meningkat.
Pasalnya masyarakat saat ini belum memahami cara merespon terjadinya bencana.
"Arah lari ketika terjadi gempa pun kita tidak tahu kemana. Itu merupakan respon betapa tidak siapnya kita (terhadap bencana)," kata Ali Yusuf di Jakarta, Jumat (11/1) malam.
Menurut dia, cara mendidik masyarakat agar sadar bencana harus disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.
"Sosialisasi terhadap masyarakat perkotaan tentu beda dengan sosialisasi terhadap masyarakat pesisir," katanya.
Ia mencontohkan, bila dilakukan untuk masyarakat pedesaan, sosialisasi cukup dengan mengumpulkan massa di balai desa dan diberikan materi mengenai kebencanaan.
Sementara bila untuk masyarakat kota, langkah sosialisasi bisa dilakukan dengan pengiriman sms secara massal atau dengan cara bekerja sama dengan e-commerce seperti Bukalapak atau Gojek untuk membantu mensosialisasikan.
"Untuk masyarakat perkotaan mungkin bisa dengan membuat iklan kerja sama dengan Gojek, Bukalapak dan lainnya," katanya.
Ali menuturkan, saat ini masyarakat Indonesia masih kurang waspada terhadap bencana. Bahkan ia mendapati sejumlah orang yang masih mempertanyakan penyebab Indonesia kerap dilanda bencana.
"Indonesia ini memang rawan bencana. Harusnya diterima dan dipahami bagaimana untuk menghadapi bencana yang bisa datang sewaktu-waktu. Bukan malah mempertanyakan mengapa ini (bencana) terjadi," katanya.
Ia berharap kedepannya masyarakat Indonesia bisa mengambil pelajaran setiap terjadi bencana.
"Bila siaga bencana jadi gaya hidup, orang tahu harus ngapain bila terjadi bencana. Tidak akan panik lagi," katanya.
Pada tahun 2018 setidaknya terjadi tiga bencana besar di Indonesia. Berawal pada gempa besar di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Agustus. Kemudian bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah pada akhir September. Di Desember, bencana tsunami terjadi di Selat Sunda yang menerjang pesisir pantai di Lampung dan Banten. (*)
Pasalnya masyarakat saat ini belum memahami cara merespon terjadinya bencana.
"Arah lari ketika terjadi gempa pun kita tidak tahu kemana. Itu merupakan respon betapa tidak siapnya kita (terhadap bencana)," kata Ali Yusuf di Jakarta, Jumat (11/1) malam.
Menurut dia, cara mendidik masyarakat agar sadar bencana harus disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat.
"Sosialisasi terhadap masyarakat perkotaan tentu beda dengan sosialisasi terhadap masyarakat pesisir," katanya.
Ia mencontohkan, bila dilakukan untuk masyarakat pedesaan, sosialisasi cukup dengan mengumpulkan massa di balai desa dan diberikan materi mengenai kebencanaan.
Sementara bila untuk masyarakat kota, langkah sosialisasi bisa dilakukan dengan pengiriman sms secara massal atau dengan cara bekerja sama dengan e-commerce seperti Bukalapak atau Gojek untuk membantu mensosialisasikan.
"Untuk masyarakat perkotaan mungkin bisa dengan membuat iklan kerja sama dengan Gojek, Bukalapak dan lainnya," katanya.
Ali menuturkan, saat ini masyarakat Indonesia masih kurang waspada terhadap bencana. Bahkan ia mendapati sejumlah orang yang masih mempertanyakan penyebab Indonesia kerap dilanda bencana.
"Indonesia ini memang rawan bencana. Harusnya diterima dan dipahami bagaimana untuk menghadapi bencana yang bisa datang sewaktu-waktu. Bukan malah mempertanyakan mengapa ini (bencana) terjadi," katanya.
Ia berharap kedepannya masyarakat Indonesia bisa mengambil pelajaran setiap terjadi bencana.
"Bila siaga bencana jadi gaya hidup, orang tahu harus ngapain bila terjadi bencana. Tidak akan panik lagi," katanya.
Pada tahun 2018 setidaknya terjadi tiga bencana besar di Indonesia. Berawal pada gempa besar di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada Agustus. Kemudian bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah pada akhir September. Di Desember, bencana tsunami terjadi di Selat Sunda yang menerjang pesisir pantai di Lampung dan Banten. (*)
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
23 personel Marinir menjadi korban dalam bencana tanah longsor di Bandung Barat
26 January 2026 20:24 WIB
Anggota DPRD Provinsi Sumbar Ali Muda bantu satu unit mobil operasional SMA N 2 Kinali Pasbar (Video)
01 December 2025 16:06 WIB
Legislator Ali Muda dorong penguatan koperasi dan usaha kecil sebagai pilar ekonomi masyarakat
27 August 2025 13:29 WIB