Suasana di Perpustakaan Daerah Kota Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar), terasa ramai pada Minggu jelang siang oleh suara tawa dan celoteh anak-anak.
     Mereka berada di ruangan bangunan yang terpisah beberapa meter dari gedung utama perpustakaan. Di dalamnya dilengkapi rak berisi buku-buku, sebuah meja oval panjang dan berbagai perlengkapan seperti botol air mineral bekas, kertas, pensil warna, gunting, lem kertas dan lainnya.
     Bersama mereka ada seorang dewasa mendampingi yang tidak kalah sibuk menunjukkan ekspresi, suara dan gerak tubuh lucu guna menarik perhatian anak-anak tetap tertuju pada aktivitas yang sedang mereka lakukan.
     "Namaku Goofy, aku anjing yang baik tapi tuanku jahat padaku," Aga murid kelas tiga SD dengan percaya diri bercerita sambil memegang karakter anjing Goofy yang ia buat sendiri dari kertas.
     Sesekali ia terhenti bercerita sambil memikirkan dialog atau jalan cerita selanjutnya. Meski hanya berdiri diam tanpa gerakan luwes namun ia berani membuat kontak mata dengan teman-teman yang menyaksikannya.
     Duduk di hadapan Aga, Maximilian murid kelas lima SD juga sama percaya dirinya ketika bercerita. Berbeda dengan Aga yang bercerita sambil memegang karakter tokoh yang diceritakan, Maximilian bercerita berdasarkan gambar yang telah ia gores di buku gambarnya.
     Ia menggambar rumah besar lengkap dengan taman dan kolam renang. Dengan bahasa Indonesia yang baik dia mampu bercerita mengenai aktivitas yang dilakukan bersama adiknya di dalam dan luar rumah mulai pagi sampai sore hari.
     Lalu di sebelah kanan Maximilian, ada Puti yang masih kelas tiga SD datang jauh-jauh dari Kota Padang, duduk manis sambil memegang mainan berupa botol air mineral bekas yang sudah ditempeli kertas berwarna-warni hingga menyerupai bagian kepala boneka.
     Ketika ditanya mengenai kemampuan mendongeng atau bercerita ia mengangguk menyatakan bisa namun masih malu ketika disilakan unjuk kebolehan.
     Aga, Maximilian dan Puti adalah tiga dari sekitar 30 anak usia TK dan SD yang melewatkan hari Minggu mereka di Kelas Kreatif Kelas Mendongeng yang diadakan gratis oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) dan Forum Pegiat Literasi (FPL) Padang Panjang.
     Di kelas itu, anak-anak diajak bergembira sebagaimana mestinya mereka melewatkan masa kanak-kanak namun ada ilmu dan karakter baik yang ditanamkan dalam aktivitas tersebut.
     Dongeng dan Hak Anak
     Pendongeng kreatif sekaligus relawan di Forum Pegiat Literasi Padang Panjang, Niki Martoyo mengatakan melalui mendongeng setidaknya ada tiga hak anak yang dapat dipenuhi yaitu hak pendidikan, hak mendapat informasi layak anak dan hak bermain.
     Sebagai instruktur di kelas mendongeng setiap akhir pekan, di setiap pertemuan ada saja aktivitas yang disiapkan untuk anak-anak.
     Dalam pertemuan itu mereka diajarkan membuat mainan dari barang-barang bekas. Kreativitas itu menurutnya, terutama bagi anak yang menggemari permainan di komputer atau ponsel, dapat mengurangi waktu yang dihabiskan anak menatap layar monitor.
     Selagi berkreasi membuat mainan, Niki menyisipkan pesan-pesan moral lewat sebuah dongeng misalnya agar anak-anak hidup hemat, memanfaatkan barang bekas, mengasihi sesama dan menyayangi anggota tubuh seperti mata yang bisa rusak jika terlalu lama bermain di komputer atau ponsel.
     Atau, menyisipkan informasi bahwa mainan yang mereka sedang ciptakan bisa didapat petunjuknya dari sebuah buku. Dengan cara itu, dapat memancing rasa penasaran anak terhadap buku.
     "Dengan dongeng anak-anak juga diarahkan gemar membaca. Mereka tidak langsung diberi buku dan disuruh membaca, melainkan bermain dulu lalu dibuat penasaran bahwa yang mereka lakukan ada di dalam buku," ujarnya.
     Setelah mainan selesai dibuat, kembali Niki berimprovisasi menyampaikan dongeng didukung perlengkapan berupa mainan mewakili tokoh atau benda yang diceritakan. Tetap ada pendidikan moral disisipkan dan disampaikan dengan cara yang menghibur.
     Bagi Niki, menjadi kenikmatan tersendiri ketika melihat anak-anak ceria menyimak dogeng yang ia sampaikan. Ketika pesan moral sampai dan tertanam pada anak, hal itu menjadi kenikmatan yang lebih besar.  
     "Ada anak yang setiap selesai kelas mendongeng, pinjam buku di perpustakaan untuk dibawa pulang. Pernah pula ada orangtua dari salah satu anak yang mengikuti kelas mendongeng memberitahu diberi kado ulangtahun dari si anak. Kado itu dibuat sendiri dari barang bekas," ujarnya.
     Ia menerangkan, lewat mendongeng anak juga diajarkan agar tumbuh menjadi percaya diri dengan cara mendorongnya agar mampu dan mau bercerita.
     Untuk hal itu, ujarnya memang membutuhkan proses mulai dari kemampuan menyampaikan ide, berbicara dan berekspresi.
     "Memang butuh proses namun nanti hasilnya bagus jika diasah terus. Misalnya di kelas mendongeng belajar vokal dan mengatur mimik wajah ketika bercerita. Ini akan membantu mengasah kepercayaan diri ketika berkomunikasi dengan orang lain. Bukan tidak mungkin nanti bisa pandai berorasi seperti Soekarno," katanya.
     Kiat Mendongeng Bagi Orangtua
     Menurut Niki, di Sumbar aktivitas mendongeng yang dilakukan oleh orangtua pada anak sangatlah kurang padahal aktivitas itu manfaatnya dinilai baik sebagai sarana membentuk karakter anak.
     Tidak dipungkiri bahwa orangtua memiliki kesibukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari namun bukan berarti hak anak boleh diabaikan.
     Sebagai orangtua, Niki juga berusaha meluangkan waktu untuk dilewatkan bersama anak dan memanfaatkan mendongeng sebagai sarana menjalin kedekatan. Biasanya dilakukan jelang tidur atau ketika anak bermain namun tampak seolah mulai bosan.
     "Menjadi orangtua, berarti mempunyai kewajiban memahami dan mencintai dunia anak, bukan memaksa mereka tumbuh sesuai apa yang diinginkan," katanya.
     Melalui dongeng, bisa menjadi cara memasuki dunia anak yang berisi keceriaan dan penuh imajinasi.
     Jika ingin bermain sambil membentuk karakter anak melalui dongeng, menurutnya caranya cukup sederhana. Orangtua perlu mengetahui teknik gerak tubuh, vokal atau menirukan suara dan ekspresi karena akan ada paling tidak dua karakter yang dibawakan.
     Kemudian, orangtua mesti punya kemampuan improvisasi. Jika sekiranya menemukan atau mengalami suatu pengalaman berharga, dapat diubah menjadi gaya cerita yang mudah dimengerti anak. Untuk kemampuan ini, orangtua juga harus banyak membaca.
     "Sekarang banyak buku-buku anak yang cuma beberapa halaman. Jadi tidak memakan banyak waktu untuk membacanya. Biar cerita lebih berkembang, selesai membaca tentu harus improvisasi, tidak hanya fokus pada buku," ujarnya.
     Cara terakhir dan terpenting orangtua harus tampil atraktif atau memiliki daya tarik dengan menunjukkan ekspresi yang baik di hadapan anak.
     "Hal ini bukan hanya ketika mau mendongeng saja namun setiap waktu tunjukkan ekspresi yang baik di hadapan anak sekalipun lelah seusai kerja karena ini juga termasuk hak anak melihat orangtua yang bahagia bertemu kembali dengannya setelah seharian bekerja," ujarnya. (*)

Pewarta : Ira Febrianti
Editor : Joko Nugroho
Copyright © ANTARA 2024