Rouhani: Iran akan tetap ikuti kesepakatan nuklir multinasional
Rabu, 9 Mei 2018 6:54 WIB
Presiden Iran Hassan Rouhani. (Antara)
Ankara, (Antaranews Sumbar) - Presiden Hassan Rouhani mengatakan, Selasa, Iran tetap akan mengikatkan diri pada kesepakatan nuklir multinasional kendati Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk menarik diri.
Perjanjian yang dicapai pada 2015 itu dirancang untuk mencegah Teheran memiliki kemampuan membangun senjata nuklir.
"Jika kita mencapai tujuan-tujuan kesepakatan itu dalam kerja sama dengan para anggota lainnya di perjanjian itu, kita akan pegang teguh (kesepakatan)... Dengan keluar dari kesepakatan, Amerika telah secara resmi meremehkan komitmennya pada sebuah perjanjian internasional," kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan televisi.
"Saya telah memerintahkan kementerian luar negeri untuk berunding dengan negara-negara Eropa, China dan Rusia dalam minggu-minggu mendatang. Jika pada akhirnya dalam masa singkat ini kita menyimpulkan bahwa kita bisa memetik keuntungan penuh dari JCPOA dalam kerja sama dengan semua negara, (kita akan tetap mengikuti) kesepakatan," tambahnya.
JCPOA atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama adalah nama yang dibuat untuk kesepakatan nuklir.
Perjanjian itu dicapai pada 2015 antara Iran, lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa dan Jerman.
Kelima anggota permanen Dewan Keamanan adalah Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris dan Prancis.
Rouhani menambahkan bahwa Iran siap melanjutkan kegiatan nuklirnya setelah berkonsultasi dengan kekuatan-kekuatan dunia lainnya yang menjadi anggota perjanjian tersebut.
Keputusan Trump disambut baik oleh sekutu-sekutu utama Washington di Timur Tengah, yaitu Israel dan Arab Saudi, yang keduanya merupakan musuh Iran.
Berdasarkan kesepakatan, Iran harus mengekang kegiatan nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sebagian besar sanksi yang dikenakan pada negara itu.
Trump mengatakan ia akan kembali menerapkan sanksi terhadap Iran segera.
Keputusannya itu telah menyebabkan tekanan terhadap sekutu-sekutunya di Eropa, yang merupakan pendukung utama kesepakatan dan enggan bergabung dengan Amerika Serikat untuk menjalankan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran. (*)
Perjanjian yang dicapai pada 2015 itu dirancang untuk mencegah Teheran memiliki kemampuan membangun senjata nuklir.
"Jika kita mencapai tujuan-tujuan kesepakatan itu dalam kerja sama dengan para anggota lainnya di perjanjian itu, kita akan pegang teguh (kesepakatan)... Dengan keluar dari kesepakatan, Amerika telah secara resmi meremehkan komitmennya pada sebuah perjanjian internasional," kata Rouhani dalam pidato yang disiarkan televisi.
"Saya telah memerintahkan kementerian luar negeri untuk berunding dengan negara-negara Eropa, China dan Rusia dalam minggu-minggu mendatang. Jika pada akhirnya dalam masa singkat ini kita menyimpulkan bahwa kita bisa memetik keuntungan penuh dari JCPOA dalam kerja sama dengan semua negara, (kita akan tetap mengikuti) kesepakatan," tambahnya.
JCPOA atau Rencana Aksi Komprehensif Bersama adalah nama yang dibuat untuk kesepakatan nuklir.
Perjanjian itu dicapai pada 2015 antara Iran, lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa dan Jerman.
Kelima anggota permanen Dewan Keamanan adalah Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris dan Prancis.
Rouhani menambahkan bahwa Iran siap melanjutkan kegiatan nuklirnya setelah berkonsultasi dengan kekuatan-kekuatan dunia lainnya yang menjadi anggota perjanjian tersebut.
Keputusan Trump disambut baik oleh sekutu-sekutu utama Washington di Timur Tengah, yaitu Israel dan Arab Saudi, yang keduanya merupakan musuh Iran.
Berdasarkan kesepakatan, Iran harus mengekang kegiatan nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sebagian besar sanksi yang dikenakan pada negara itu.
Trump mengatakan ia akan kembali menerapkan sanksi terhadap Iran segera.
Keputusannya itu telah menyebabkan tekanan terhadap sekutu-sekutunya di Eropa, yang merupakan pendukung utama kesepakatan dan enggan bergabung dengan Amerika Serikat untuk menjalankan kembali sanksi-sanksi terhadap Iran. (*)
Pewarta : Antara
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tolak gagasan 'kesepakatan Trump' soal nuklir, Presiden Iran: tawaran 'aneh'
15 January 2020 17:34 WIB, 2020
Rouhani tegaskan rakyat Iran takkan tunduk pada persekongkolan 'musuh'
28 November 2019 11:41 WIB, 2019
Presiden Iran nyatakan pembicaraan dengan AS hanya jika sanksi dicabut
27 August 2019 19:05 WIB, 2019
Rouhani tegaskan tidak ingin berperang, tapi jika AS melanggar lagi berhadapan dengan Iran
26 June 2019 10:57 WIB, 2019
Iran tolak tawaran berunding Trump beberapa jam jelang berlakunya sanksi baru
07 August 2018 6:59 WIB, 2018