Jakarta, (Antaranews Sumbar)- Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) jadi sorotan nasional sebulan terakhir, karena di daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga itu pihak Kepolisian dan Bea Cukai berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkoba jenis sabu-sabu menggunakan kapal bermuatan 1.000 kilogram lebih.


       Kapal pertama, KM Sunrise Glory diamankan petugas di Selat Philips pada Rabu (7/2) sekitar Perairan Batam yang membawa sabu-sabu seberat 1,29 ton dan kapal kedua yakni MV Min Yan Yuyung di Perairan Anambas pada Selasa (20/2) membawa 1,6 ton sabu-sabu.

 
     Rencananya, narkoba yang berasal dari Tiongkok tersebut akan diedarkan di Jakarta.


        Menanggapi peristiwa tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof Muhadjir Effendy meyakini perdagangan narkoba bukan murni bisnis tetapi bagian dari perang proksi.


        "Saya termasuk yang berpendapat bahwa perdagangan narkoba bukan murni bisnis tetapi bagian dari perang proksi," ujar Mendikbud.


         Perang proksi merupakan perang ketika lawan kekuatan menggunakan pihak ketiga. Negara asing, menghancurkan generasi muda bukan dengan senjata yang mematikan tetapi menggunakan  "tangan ketiga" yang bernama narkoba. Narkoba menghancurkan suatu bangsa melalui generasi mudanya yang mengonsumsi narkoba.


       Penyalahgunaan narkoba membuat generasi menjadi tidak berkualitas.


        Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menjelaskan dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta, maka Indonesia menjadi pasar potensial terbesar di kawasan Asia Tenggara. Hal itu dibuktikan bahwa sebagian besar pasokan barang laknat itu berasal dari luar negeri.

     
  "Kalau seandainya direncanakan, paling tidak ada unsur pembiaran oleh negara tertentu  yang tidak ingin melihat Indonesia menjadi besar dan kuat. Bahkan barang itu, berasal dari negara yang sangat keras dan hukuman sangat berat  terhadap pihak yang terlibat dalam sindikat peredaran obat terlarang tersebut," papar dia.


        Dari segi ekonomi, jumlah penduduk yang banyak tersebut sangat menguntungkan bagi bandar narkoba. Begitu juga letak geografis dan topografi,  Indonesia yang merupakan negara kepulauan menjadi celah untuk menyelundupkan narkoba.


        "Indonesia terdiri atas pulau-pulau yang terpencil, yang sulit untuk dijangkau. Hal itu mempermudah penyelundupan karena banyak pilihan melalui laut atau udara. Banyak celah aman untuk menyelundupkan narkoba, itu yang harus diwaspadai," kata dia.


        Untuk itu, ia terus mewanti-wanti generasi muda untuk tidak menyentuh barang haram itu karena tak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga keluarga dan bangsa.


        Terkait upaya yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba, Muhadjir mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk melaksanakan modul antinarkoba yang sudah disusun bersama.


        Para guru profesional juga, kata dia lagi, akan berusaha agar anak didiknya tidak terpengaruh untuk mengonsumsi narkoba. Disamping peran guru, Muhadjir menyebut ketahanan keluarga sangat penting untuk membentengi anak dari bahaya narkoba.


        Sebagian besar, anak yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba akibat kurangnya perhatian dari keluarga. Keluarga merupakan perisai pertama dalam melindungi anak dari bahaya narkoba.

   
    Selain itu, ia juga tak memungkiri ada anak-anak dari keluarga berada yang menjadi incaran para bandar narkoba.


        "Keluarga juga sama, harus ada pencegahan dini. Jangan sampai ada anggota keluarga yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Terutama yang perlu dicermati adalah teman sebaya dari anak-anak kita, karena sangat berpengaruh pada kehidupan anak," imbuh Guru Besar Sosiologi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang itu.   


   Keluarga unsur terpenting


   Sementara itu, psikolog pendidikan Najeela Shihab menegaskan keluarga dan sekolah merupakan unsur terpenting dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.


       "Peran keluarga dan sekolah dalam penyalahgunaan narkoba yang terpenting sebetulnya fungsi pencegahan," kata Najeela.


       Keluarga dan sekolah memastikan bahwa anak mengenal tubuhnya dengan baik, memahami mana makanan yang sehat dan bermanfaat yang sebetulnya bisa dilakukan sejak masa prasekolah.


        Pada usia sekolah dasar, kata Najeela, anak perlu meningkatkan kompetensi di berbagai bidang agar anak menemukan kegemaran belajar dan mengisi waktu dengan baik untuk menunjang kesuksesan baik akademik maupun non akademik.


       "Kemudian, pada masa sekolah menengah anak perlu bimbingan memilih lingkungan pergaulan dan menghadapi tekanan kelompok, mempertahankan kebiasaan olahraga dan beribadah dengan baik".


        Pada sepanjang usia anak, kata Najeela lagi, komunikasi yang selalu terbuka dengan sangat anak juga rasa percaya saat ada masalah akan membuat anak lebih berkurang risikonya terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.


        "Kalau memang anak sudah menggunakan narkobba, maka mutlak butuh penanganan profesional sejak awal diketahui. Terapinya tidak bisa terapi individual saja, tapi juga konseling keluarga dan intervensi lingkungan, karena kalau tidak, kemungkinan anak kambuh lagi dan akan besar bila tidak ada perubahan ekosistem," papar perempuan penggagas pesta pendidikan tersebut.


         BNN menyebut sebanyak 33 orang meninggal dunia akibat narkoba setiap harinya. Sementara kerugian akibat narkoba mencapai Rp63 triliun per tahun.

Pewarta : Indriani
Editor : Hendra Agusta
Copyright © ANTARA 2024