Jakarta, (Antara) - Hary Tanoesoedibjo, pengusaha yang juga masuk ke dunia politik, menegaskan bahwa pengunduran dirinya dari Partai Nasional Demokrat (NasDem) bukanlah suatu permainan politik. "Tentang apakah mungkin saya akan merapat lagi ke NasDem, ya, pasti tidak karena saya keluar disebabkan oleh perbedaan prinsip," kata Hary pada diskusi publik yang diadakan oleh Jaringan Aktivis Pro Demokrat (ProDem) di Jakarta, Rabu. Kemudian, dia mengatakan bahwa dirinya masuk ke dunia politik melalui Partai NasDem pada tanggal 9 Oktober 2011 karena adanya suatu panggilan jiwa. "Saya masuk tanpa latar belakang politik karena itu bukan profesi saya maka saya masuk NasDem itu militan sekali karena merasa ada suatu panggilan untuk berbuat sesuatu bagi bangsa," ujarnya. Dia menjelaskan, ketika bergabung di NasDem, dirinya dan beberapa pemuda melakukan pendekatan dan program-program, khususnya untuk menarik kalangan muda. "Kami banyak mengundang simpati sehingga 'membership' (keanggotaan, red.) partai pun tumbuh pesat. Akan tetapi, begitu partai 'di atas' tiba-tiba ada keinginan untuk penggantian," katanya. Menurut dia, masalah utama muncul ketika para senior di partai ingin menduduki jabatan-jabatan sebagai petinggi partai. "Ini di luar keinginan dan aspirasi saya karena teman-teman sudah bekerja militan dan kontribusinya bagus, kemudian para senior ingin aktif sebagai eksekutif di partai," ungkapnya. Labih lanjut dia mengatakan,"Karena saya sulit mengaktualisasi diri bersama teman-teman muda, kami sepakat untuk bergerak bersama, ya, lebih baik kami mundur." Hary menekankan bahwa pada saat itu dirinya tidak langsung mengundurkan diri dari NasDem, tetapi mencoba untuk bernegosiasi. "Kami sudah coba membahas, tetapi menemukan jalan buntu. Saya paling tidak suka konflik sebab tujuan utama kami bukan di partai politik, melainkan bagaimana bisa berbuat yang terbaik bagi bangsa," ujarnya. Oleh karena itu, dia kembali menegaskan bahwa pengunduran dirinya bukanlah suatu kepura-puraan. "Sekali lagi, apakah ini sebuah 'game' politik? Jawaban saya tidak. Jadi, saya memang tidak cocok di situ (NasDem)," tegasnya. Selanjutnya, ketika ditanya tentang organisasi masyarakat (ormas) bernama Persatuan Indonesia (Perindo) yang belum lama dibentuknya, CEO dari MNC Group ini enggan menjawab dengan alasan waktunya belum tepat untuk membahas kembali tentang ormas itu. Sebelumnya, Hary Tanoesoedibjo segera mendeklarasikan ormas Persatuan Indonesia (Perindo) yang baru dibentuknya pascapengunduran diri sebagai Ketua Dewan Pakar Partai NasDem. "Rencananya Perindo akan dideklarasikan pada tanggal 24 Februari nanti. Saat ini, masih menggodok seluruh persiapannya. Mulai badan hukum, anggaran dasar, dan perangkat lainnya," kata Hary. Setelah Mundur dari Nasdem, dia mengakui telah berkomunikasi dan bertemu dengan semua partai politik peserta Pemilu 2014. Namun, dia belum memutuskan untuk menerima 'pinangan' parpol tertentu. Menurut dia, belum adanya partai yang dipilih karena dia tidak mengejar jabatan politik, maka ormas Perindo dibentuk untuk menyalurkan idealismenya sebagai anak bangsa dalam mencapai sebuah perubahan. "Ini hanya soal kendaraannya saja yang beda, tujuannya tetap sama, yaitu untuk perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik. Perindo ini saluran idealisme saya," ujar Hary. (*/jno)