Pariaman, (Antara Sumbar) - Sebanyak empat pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) di Kota Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar), dinyatakan tidak lulus Ujian Nasional (UN) 2016.


         Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), setempat, Kanderi di Pariaman, Kamis, mengatakan empat pelajar tersebut berasal dari Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN).


         "Empat pelajar tersebut dinyatakan tidak lulus UN karena tidak memenuhi berbagai persyaratan atau kriteria yang ditetapkan setelah para majelis guru mengadakan rapat bersama," ujar dia.


         Ia menjelaskan untuk kelulusan pelajar sendiri ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan.


         Beberapa persyaratan kelulusan UN diantaranya, kehadiran pelajar, standar nilai, dan perilaku peserta didik itu sendiri selama sekolah.


         Bagi empat pelajar tersebut, menurutnya belum tertutup kemungkinan untuk menyambung pendidikan ketingkat yang lebih tinggi.


         Dinas terkait sendiri memberikan saran kepada wali murid dan anak didik agar kembali mengulang pendidikan formal di bangku sekolah sebagai pelajar pada 2017 di satuan pendidikan yang bersangkutan.


         "Memang ada dua pilihan bagi anak didik kita, yang pertama kembali mengulang pendidikan formal di sekolah tersebut, dan yang kedua mengikuti ujian paket B pada 2017," jelasnya.


         Meskipun demikian, pihaknya telah menekankan dan mengimbau kepada anak didik agar mengikuti jalur formal saja, karena dinilai lebih baik sekaligus kembali membentuk rasa kepercayaan diri anak didik saat menghadapi ujian yang akan datang.


         Pada 2016, peringkat UN SLTP Pariaman mengalami penurunan dari tahun sebelumnya, dimana pada 2015 berada posisi ketiga se-Sumbar.  

    Saat ini untuk tingkat SLTP Kota Pariaman berada di urutan ketujuh dari seluruh Kabupaten dan Kota yang ada di Sumbar dan memang terjadi penurunan.


         Ia menilai penurunan peringkat tersebut dikarenakan setiap daerah di Sumbar semakin berpacu dan kompetitif dalam mengenjot dunia pendidikan.      

    Meskipun demikian, pihaknya mengaku telah berusaha memacu percepatan dunia pendidikan semaksimal mungkin.


         "Persaingan dalam dunia pendidikan semakin tinggi, kurang saja beberapa poin peringkat yang semula baik langsung bisa digeser oleh daerah lain," tambahnya. (*)