Lubuk Sikaping, (AntaraSumbar) - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Pasaman banyak yang tutup setelah diberlakukannya penurunan harga jual bahan bakar minyak jenis solar dan premium oleh pemerintah, Selasa pukul 00.00 WIB.


Amir Syamsuddin (42), warga Kauman, Rao Selatan, Selasa, mengaku kecewa atas tidak beroperasinya sejumlah SPBU, akibat kehabisan persediaan, padahal pemerintah jauh hari sudah menyampaikan akan menurunkan harga jual BBM.


"Kita kecewalah, karena penurunan harga BBM ini tidak serta merta diikuti dengan ketersediaan stok. Semua tutup dan tidak beroperasi sehari menjelang BBM diturunkan," katanya.


Diketahui, terhitung hari ini (Selasa,red) harga BBM resmi diturunkan oleh pemerintah, solar turun dari Rp 6.700 menjadi Rp5.650, premium untuk luar Jamali (Jawa, Madura, Bali) turun dari Rp7.300 menjadi Rp6.950, sedangkan harga premium untuk Jamali turun dari Rp7.400 menjadi Rp7.050.


Dari pantauan, SPBU yang tidak beroperasi, seperti di wilayah utara Kabupaten Pasaman, yakni SPBU Panti, Kauman dan Rao kehabisan stok BBM, baik solar maupun premium sejak Senin (4/1).


Alasannya pun sama, SPBU tersebut kehabisan stok, selain itu, SPBU di daerah ini belum mendapat pasokan BBM dengan harga terbaru setelah penurunan dari pihak Pertamina.


Seperti di SPBU 14.263.596 Kauman, di kecamatan Rao Selatan, SPBU milik H Limin Rangkuti itu kehabisan stok BBM jenis premium sejak Senin (4/1) sore.


"Ditanya ke petugasnya, alasannya stok habis. Baik solar, premium juga pertamax. Mereka masih menunggu distribusi BBM dari Pertamina. Dikatakan, malam ini stok BBM kembali normal untuk SPBU itu," jelasnya.


Tutupnya sejumlah SPBU di wilayah itu otomatis dimanfaatkan para pemilik kios penjual BBM eceran. Mereka (penjual,red) meraup untung dengan menaikkan harga jual BBM kepada pembeli. Untuk jenis bensin (premium), per liternya dihargai Rp10 ribu, sementara solar mencapai Rp8.500.


"Kan jarang-jarang pak. Kalau udah normal, harga jualnya akan kita sesuaikan lagi," kata salah seorang penjual BBM ketengan. (*)


Pewarta : Eko Fajri
Editor :
Copyright © ANTARA 2026