Belum reda derita yang dialami warga Sumbar pascagempa besar berkekuatan 7,9 SR pada Rabu 30 September 2009 yang meluluhlantakkan Ranahminang. Belum pulih trauma pascagempa Haiti yang merenggut korban jiwa mencapai 200.000 lebih pada Selasa 12 Januari 2010 dengan kekuatan 7,0 SR. Guncangan gempa kembali melanda dunia, kali ini kota terbesar kedua di Chili yaitu Conception dihajar gempa dengan kekuatan yang lebih dahsyat pada Sabtu 27 Februari 2010, kali ini kekuatannya mencapai 8,8 SR. Ibarat penyakit, belumlah sembuh luka lama, kembali luka baru menggerogoti tubuh. Sang Khalik, kembali menunjukkan kuasanya atas dunia dan makhluk ciptaan-NYA. Gempa besar dengan potensi gelombang pasang besar (tsunami), terus menerus menebarkan ketakutan. Tak hanya di daerah yang menjadi korban terjangan gempa, pun daerah yang jauh dari pusat gempa. Bahkan gempa Chili yang berada ribuan kilo dari Bumi Pertiwi, dikhawatirkan tetap mengantarkan gelombang tsunami. Bahkan sejumlah negara di Pacifik, mulai melakukan kebijakan pengevakuasian massal terhadap warga mereka yang tinggal di kawasan pesisir agar tak menjadi korban tsunami. Negara-negara kepulauan di kawasan Pacifik, memang sangat berpotensi dilanda tsunami dampak gempa Chili. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau pemerintah di negara Hawai, Fuji, Australia, Jepang, Papua New Guinea, Filipina hingga Rusia menebarkan peringatakan terhadap warganya. Nah, apa kaitannya dengan masyarakat di Sumatera Barat terutama yang tinggal di pesisir pantai ? Tentu ada, lautan yang tak bertepi dan sambung menyambung, tentu berpotensi mengirimkan sinyal bahaya tsunami ke Ranahminang. Apalagi, Sumbar dan daerah pesisir barat Pulau Sumatera lainnya, telah divonis rawan tsunami. Masyarakat tentu tak harus dibiarkan hidup di tengah ketakutan, kegalauan dan ketidakpastian. Hak Asasi masyarakat untuk hidup tenang juga harus diperhatikan pemerintah. Karena itu, segala macam program yang telah disusun untuk mengantisipasi tsunami, harus segera dituntaskan. Jangan sampai pembangunan rusunawa, shelter, serta jalur evakuasi hanya menjadi pemanis bibir kepala daerah untuk mencari dukungan. Sudah saatnya pemerintah benar-benar mengerjakan proyek-proyek tersebut secepatnya. Apapun rintangan yang dialami, harus diterjang. Jangan sampai tsunami lebih dulu menerjang ketimbang pemerintah menerjang kendala yang dihadapi. Setidaknya, jika rusunawa, shelter, jalur evakuasi dan lain sebagainya itu dipercepat pembangunannya, tentu masyarakat akan semakin nyaman dalam berusaha. Sehingga pada akhirnya nanti, ekonomi Sumbar kembali pulih seperti sediakala. Dan yang pasti, masyarakat tak terus hidup di tengah ketakutan. (***)