Padang, (Antara) - Jelang kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Kota Padang berujuk rasa menolak kenaikan harga BBM di Simpang RTH Imam Bonjol, Kota Padang, Selasa. Koordinator aksi, Ikhwan Ramadhan Siregar, mengatakan tujuan aksi saat ini adalah untuk menolak kenaikan harga BBM yang direncanakan akan dilakukan oleh pemerintah dalam waktu dekat. HMI Kota Padang, katanya, dengan tegas menolak kenaikan harga BBM. Seharusnya, tambahnya, pemerintah yang baru tidak sekedar menentukan kebijakan yang justru kian mempersulit kebutuhan masyarakat kelas bawah, namun sebaliknya berpihak pada rakyat kecil. Menurutnya, rencana kenaikan harga BBM akan memberikan ruang terjadinya praktik penguasaan ladang usaha SPBU oleh milik asing. Selain itu juga, rencana kenaikan harga BBM sebesar Rp3000 per liter dinilai sungguh keterlaluan. Ia menilai, sebenarnya pemerintah tidak perlu menaikan harga BBM bersubsidi, tetapi memperhatikan secara serius aliran subsidi BBM yang tidak tepat sasaran. Karena, pengawasan pendistribusian BBM di SPBU hingga saat ini dinilai masih kurang optimal. "Pengawasan pendistribusian BBM di SPBU hingga saat ini masih kurang optimal, karena masih terdapat sejumlah kendaraan roda empat berpelat hitam atau pribadi menggunakan BBM bersubsidi," ujarnya. Jika hal itu tetap dibiarkan, imbuhnya, maka masalah BBM bersubsidi tidak akan pernah terselesaikan di negara ini. Dalam hal ini, HMI cabang Kota Padang memberikan lima contoh solusi agar pemerintah tidak menaikan harga BBM bersubsidi diantaranya Pertama Menasionalisisasikan Aset Perusahaan Asing secara bertahap. Kedua, memakai kendaraan yang hemat BBM, Ketiga, Mengontrol pendistribusian BBM dengan ketat atau dengan aturan baku, Keempat membatasi kuota kendaraan bermotor yang masuk ke negara Indonesia dan solusi terakhir yakni, memperbaiki manajemen perminyakan dari hulu sampai hilir. (stn/jno)