Jakarta, (Antara) - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengatakan organisasi Negara Islam Irak dan Suriah atau "Islamic State of Iraq and Syiria" (ISIS) lebih berbahaya dari kelompok radikal di Tanah Air. "Lebih berbahaya dari kelompok radikal. Kalau kelompok lain menjadikan Amerika sebagai musuh, namun ISIS menjadikan umat Islam sebagai musuh," ujar Din di Jakarta, Rabu. Dia mengatakan ISIS dapat menggoyahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. "Eksistensi bangsa yang merupakan hasil perjuangan umat Islam dapat terancam," jelas dia. ISIS menjadi sangat berbahaya karena sarat dengan kekerasan, perusakan, demonstrasi, maupun penggunaan senjata. "Saya mengamati pelakunya adalah kelompok lama. Jadi ini sama saja dengan barang lama kelompok baru," cetus dia. Pemerintah, sambung dia, harus berperan aktif dalam melakukan antisipasi terhadap gerakan tersebut. "Kita tidak punya data. Ada sebagian yang mengatakan kalau mereka adalah alumni Afganistan pada 1979, yang dilatih CIA untuk melawan Uni Soviet. Tapi sekali lagi, kita tidak punya data siapa saja yang terindikasi," terang dia. Din mengatakan organisasi ISIS tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam menyebarkan ajarannya, ISIS menghalalkan kekerasan, seperti bom bunuh diri, menjarah bank, melakukan pembunuhan massal, serta merusak tempat-tempat suci. MUI dan perwakilan 38 ormas Islam melarang ISIS, namun memutuskan tak perlu menetapkan fatwa haram. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan pendidikan kunci utama agar tidak terlibat ke dalam ISIS. "Dalam konteks membentengi diri sendiri, pendidikan kunci utamanya," tutur Lukman. (*/jno)