Anas Pilih yang Menang
Rabu, 9 Juli 2014 13:42 WIB
Jakarta, (Antara) - Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengaku bahwa ia memilih presiden yang pasti menang.
"Nanti kalau sudah selesai "quick count" diumumkan, itulah yang saya pilih, biasanya yang saya pilih yang menang," kata Anas saat mencoblos di rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi Jakarta, Senin.
Anas menggunakan hak pilihnya bersama 17 orang tahanan KPK lain di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 18 kelurahan Karet, Setiabudi.
Mantan anggota Komisi Pemilihan Umum tersebut mengatakan bahwa ia juga tidak memilih Susilo Bambang Yudhoyono.
"Pilih SBY? Tidak ada tadi saya lihat," tambah Anas yang tampak santai dengan mengenakan kemeja putih itu.
Anas yang menjadi terdakwa dalam dugaan penerimaan hadiah dari sejumlah proyek-proyek pemerintah dan tindak pidana pencucian uang itu, juga mengingatkan kepadawartawan yang menunggu di depan rutan KPK untuk tidak mempengaruhi pemilih.
"(Di surat undangan pemilih) nggak ada nomornya, tidak boleh loh mempengaruhi pemilih," ungkap Anas sambil menunjukkan surat undangan pemilihnya.
Sedangkan pesaingnya untuk mendapatkan kursi ketua umum Partai Demokrat, Andi Alifian Mallarangeng tidak berkomentar mengenai nomor pasangan capres dan cawapres yang dipilihnya.
Andi yang mengenakan kemeja biru berbahan denim tersebut hanya bersalaman dengan para petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).
Ada 18 orang tahanan yang menggunakan hak pilihnya di TPS di dalam rutan KPK yaitu mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq; mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya; mantan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Syahrul R Sampurnajaya; mantan Wakil Rektor Universitas Indonesia Tafsir Nurchamid; mantan Kepala PT Nindya Karya Cabang Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darusalam Heru Sulaksono; bupati Biak Yesaya Sombuk. Mereka dibawa dari rumah tahanan Detasemen Polisi Militer (Denpom) Guntur Kodam Jaya .
Selanjutnya ada mantan anggota Komisi II DPR dari fraksi Partai Golkar Chairun Nisa; advokat Susi Tur Andayani; serta direktur PT Kaltim Parna Industri (KPI) Artha Meris Simbolon; mantan ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar; mantan Menpora Andi Alifian Mallarangeng; orang dekat Luthfi Hasan, Fathanah dan Bupati Bogor Rachmat Yasin.
Masih ada pemilik PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo yang terlibat dalam pemberian suap dalam pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT) di Departemen Kehutanan, Anas Urbaningrum; Direktur utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (CMMA) Budi Susanto; Direktur PT Papua Indah Perkasa Teddy Renyut yang diduga menyuap Bupati Biak dan terakhir adalah pengusaha Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.
Proses pencoblosan berlangsung singkat yaitu mulai pukul 09.15 hingga 09.45 WIB. Hasil suara tersebut akan dibawa ke TPS 18 kelurahan Karet.
"Awalnya ada 21 orang pemilih, tapi 3 orang sudah dipindah ke Bandung jadi totalnya ada 18 orang yang memilih di rutan KPK," kata anggota KPPS TPS 18 Sutrisno. (*/sun)
Pewarta : 22
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Diburu hingga Lima Puluh Kota, dua terduga pelaku curanmor target Operasi Jaran Singgalang dibekuk
14 jam lalu
Buku "Transparansi Tiga Arah" Karya Musfi Yendra Diluncurkan Gubernur Sumatera Barat
08 September 2026 20:32 WIB
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Legislator: Percepat Pembangunan Gedung Rehabilitasi Pecandu Narkoba
08 January 2018 18:30 WIB, 2018
Kapolres Padang Pastikan Pilkada Jadi Prioritas Pengamanan Tahun Ini
06 January 2018 14:03 WIB, 2018
Demi Rp100 Juta, Tiga Kurir Ini Nekat Bawa 1,3 Ton Ganja dari Aceh ke Jakarta
04 January 2018 19:49 WIB, 2018
Kejari Pesisir Selatan Nyatakan Tidak Pernah Terima Tembusan Diversi Lakalantas
04 January 2018 17:53 WIB, 2018