
Unicef Perluas Tindakan Hentikan Penyebaran Kolera di Sudan

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Lembaga anak PBB telah melaporkan peningkatan cepat jumlah orang yang terserang kolera di Sudan Selatan dan sekarang memperluas tindakan guna menghentikan penyebaran lebih lanjut penyakit itu ke seluruh negeri tersebut. "Dana Anak PBB (UNICEF) menyatakan kasus kolera dengan cepat meningkat di Sudan Selatan dan penyakit yang sangat menular itu tampaknya menyebar," kata Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, dalam taklimat harian. "Sejak wabah kolera muncul di Ibu Kota (Sudan Selatan), Juba, pekan lalu, kasus kolera yang dilaporkan telah berlipat-ganda setiap hari; sekarang kasus baru dilaporkan di dua Begara Bagian lain --Jonglei dan Upper Nile"," kata Dujarric. Juru bicara itu mengutip UNICEF bahwa setelah kasus pertama dikonfirmasi di Juba empat hari sebelumnya, lebih dari 130 kasus baru sekarang ditangani. "Ada tiga kematian yang dikonfirmasi. Puluhan anak termasuk di antara orang yang terserang," ia menambahkan. Sejak Januari, UNICEF telah memperingatkan mengenai ancaman kolera, akibat kamp yang terlalu padat penghuni setelah kerusuhan berkecamuk terus, dan sekarang musim hujan datang. Sebagai tanggapan atas wabah kolera, UNICEF telah membantu mendirikan Pusat Pengobatan Kolera (CTC) di Rumah Sakit Pengajaran Juba, kata Dujarric, sebagaimana diberitakan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang. "UNICEF juga menyediakan pasokan penyelamat nyawa, termasuk obat, perlengkapan dan peralatan perlindungan, dan memperluas langkah pencegahan guna menghentikan penyebaran lebih jauh penyakit tersebut ke seluruh negeri itu," katanya. Sementara itu, "UNICEF menyatakan lembaga tersebut sangat memerlukan 10 juta dolar AS untuk melanjutkan operasi penyelamatan nyawa saat ini dan meningkatkan kegiatan pencegahan koleranya", kata juru bicara itu. Negara termuda di dunia tersebut telah terjerat dalam krisis yang meletus pada pertengahan Desember 2013, saat pertikaian politik berkecamuk antara Presiden Salva Kiir dan mantan wakilnya Riek Machar, yang telah dipecat dari jabatannya pada awal tahun ini. Pertempuran antara pengikut kedua orang itu berubah jadi konflik besar yang diduga telah menewaskan ribuan orang dan memaksa puluhan ribu orang lagi mengungsi di berbagai pangkalan PBB di seluruh negeri tersebut. Pada 9 Mei, kedua pesaing politik itu menandatangani kesepakatan mengenai diakhirinya pertempuran, dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon sejak itu telah mendesak semua pihak agar menahan diri sekuat mungkin di tengah tuduhan pelanggaran gencatan senjata.(*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
