Logo Header Antaranews Sumbar

BPJS Kembangkan "Bridging System" Perpendek Antrian

Rabu, 14 Mei 2014 13:54 WIB
Image Print

Solo, (Antara)- Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mengembangkan "Bridging System" sebagai upaya meningkatkan mutu layanan yang lebih baik kepada peserta dan fasilitas kesehatan rumah sakit (RS). Hal itu sebagai upaya mengatasi antrian panjang di rumah sakit maupun loket BPJS kesehatan serta kendala administrasi klaim oleh petugas rumah sakit, kata Dirut RS Ortopedi Prof Dr Soeharso Surakarta Dr dr Agus Hadian Rahim, Sp OT (K), Rabu. Ia mengatakan hal itu di selesa-sela acara Penandatanganan Kesepakatan Pengembangan dan Implementasi "Bridging System" antara SIM BPJS Kesehatan dengan SIM RS Ortopedi Prof Dr Soeharso di rumah sakit setempat. Pada dasarnya pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (JKN) melibatkan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan yakni peserta, fasilitas kesehatan dan BPJS Kesehatan. Terkait pelaksanaan jaminan kesehatan di rumah sakit, di antaranya terdapat permasalahan panjangnya antrian di loket rumah sakit maupun loket BPJS Kesehatan dan kendala administrasi klaim oleh petugas rumah sakit. "Bridging system" merupakan penggunaan fasilitas teknologi IT (web service) yang memungkinkan dua sistem yang berbeda pada saat yang sama mampu melakukan dua proses tanpa adanya intervensi satu sistem kepada sistem lainnya secara langsung. "Ya maksud dan tujuan mengembangkan Bridging system secara langsung menghubungkan dua system yang berbeda, yakni SIM RS dan SIM BPJS Kesehatan, meningkatkan efektivitas entry data processing, kecepatan proses klaim dan lain-lain" ujarnya. Agus Hadian Rahim menambahkan hingga April 2014 jumlah peserta BPJS Kesehatan di Kantor Cabang Utama (KCU) Surakarta ( Solo, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri) sebanyak 1.821.568 jiwa atau telah mencapai 46,4 persen dari jumlah penduduk yang ada di daerah tersebut. Seiring dengan meningkatnya cakupan kepesertaan, realisasi biaya pelayanan kesehatan dan jumlah klaim di rumah sakit juga turut meningkat. Rata-rata kasus per bulan di RS Oertopedi Prof Dr Soeharsi adalah 4.205 kasus untuk rawat jalan dan 405 kasus rawat inap dengan nilai klaim rata-rata per bulan Rp8,4 miliar. Adanya penerapan "bridging system" di RS Ortopedi Prof Dr Soeharso diharapkan pelayanan administrasi di dapat berjalan lancar, efektif dan efisien, terjamin kepastian pembiayaan serta proses klaim dapat dilakukan lebih cepat. Kepala Group Strategi Perencanaan Pengembangan Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Siswandi mengapresiasi dengan dikembangkan sistem tersebut di RS Ortopedi Prof Dr Soeharso, dan diharapkan bisa dijadikan contoh untuk rumah sakit lainnya. BPJS Kesehatan telah melakukan kerja sama sebanyak 1.700 rumah sakit baik negeri maupun suwasta yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Hadir pula dalam acara tersebut Kepala BPJS Kesehatan Regional VI Jateng dan Yogyakarta Handayani Budilestari dan tamu undangan lainnya. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026