
Jordania Minta Bantuan Redakan Tekanan Pengungsi Suriah

Amman, (Antara/Xinhua-OANA) - Menteri Luar Negeri Jordania Nasser Judeh, Ahad (4/5), mendesak negara donor dan masyarakat internasional untuk meredakan tekanan atas Jordania akibat menampung sangat banyak pengungsi Suriah. Di dalam pernyataan saat pembukaan konferensi menteri luar negeri dari negara yang menampung pengungsi Suriah yang diselenggarakan di Kamp Zaatari buat pengungsi Suriah, menteri itu mengatakan beban atas Jordania sangat besar sebab terdapat lebih dari 1,3 juta orang Suriah di negeri tersebut, sehingga menjadi tekanan bagi sumber dayanya yang terbatas. Pengungsi Suriah di Jordania saat berjumlah 20 persen dari warga di negeri tersebut, kata pemerintah. Menteri itu menambahkan ada 120.000 pelajar Suriah dan ada tekanan yang meningkat atas layanan air, energi serta kesehatan. "Jordania akan terus menyediakan bantuan bagi pengungsi Suriah dan oleh karena itu perlu untuk melanjutka dukungan bagi kerajaan ini agar bisa memainkan perannya, terutama mengingat memburuknya krisis Suriah, kata Judeh, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin. Pertemuan itu, yang dihadiri oleh menteri luar negeri dan pejabat dari Irak, Turki, Lebanon dan Mesir, berusaha menyoroti dampak dari krisis Suriah atas negara tetangga Suriah dan mendesak masyarakat internasional agar menambah bantuan yang diperlukan buat semua negara itu. Menurut para pejabat PBB dalam acara tersebut, dukungan masyarakat internasional buat pengungsi Suriah sebenarnya tak sampai mencakup 25 persen dari kebutuhan mereka yang sesungguhnya. Pada Sabtu (3/5), prajurit pemerintah Suriah membuat kemajuan baru di Provinsi Aleppo di bagian baratlaut negeri itu, dan di pinggiran timur Ibu Kota Suriah, Damaskus, kata laporan media lokal. Satuan militer merebut Bukit Aleppo, yang strategis, di sebelah barat Kota Industri Ash-Sheikh Najjar di Aleppo, kata kantor berita resmi Suriah, SANA. SANA melaorkan personel militer Suriah juga bergerak maju di Permukiman Ar-Ramoseh dan Al-Ameriah di Aleppo. Ditambahkannya, pasukan Suriah melanjutkan proses pembersihan ranjau yang dipasang oleh gerilyawan di Kota Al-Breij, yang direbut kembali oleh militer sehari sebelumnya. Kemajuan di Al-Breij akan memungkinkan tentara mengamankan daerah di sekitar penjara pusat Aleppo, yang telah dikepung oleh gerilyawan selama lebih dari satu tahun. Aleppo, pusat ekonomi dan kota terbesar di Suriah, telah muncul sebagai medan tempur utama dalam krisis tiga-tahun di negeri tersebut sejak gerilyawan berikrar akan "membebaskan" Aleppo dari pasukan pemerintah pada Juni 2012. Pasukan pemerintah telah melancarkan serangan yang menghancurkan terhadap kota kecil yang dikuasai gerilyawan --Jobar dan Mlaiha-- di bagian timur Damaskus. Pertempuran telah berkecamuk selama 49 jam belakangan. Krisis tiga-tahun di Suriah telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dan memaksa sepertiga warganya meninggalkan rumah mereka. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
