Logo Header Antaranews Sumbar

Beijing Sebut Sepertiga Polusi Berasal dari Luar Kota

Rabu, 16 April 2014 19:35 WIB
Image Print

Beijing, (Antara/Reuters) - Sekitar sepertiga dari polusi udara di ibukota Tiongkok yang diliputi asap, Beijing, berasal dari luar kota, menurut laporan media resmi, Rabu, mengutip pengawas polusi. Chen Tian, kepala Biro Perlindungan Lingkungan Beijing , mengatakan bahwa sekitar 28-36 persen dari partikel udara berbahaya yang dikenal sebagai PM2.5 berasal dari provinsi-provinsi di sekitar Beijing, seperti Hebei, lokasi tujuh dari 10 kota paling tercermar di Tiongkok pada 2013, menurut data resmi. Pemerintah pusat telah mengidentifikasi wilayah Beijing - Tianjin - Hebei sebagai salah satu tempat terdepan dalam perang melawan polusi. Pemerintah juga tengah berada di bawah tekanan untuk mengurangi konsumsi batubara dan kapasitas industri. Pertumbuhan tak terkendali selama beberapa dasawarsa telah memukul kualitas lingkungan Tiongkok dan udara Beijing yang acapkali sangat buruk telah menjadi simbol dari krisis polusi. Kemarahan publik atas polusi di beberapa tempat yang berbeda telah memicu protes dan sekalipun pemerintah telah mengumumkan rencana untuk mengatasinya, pihak berwenang sering kesulitan untuk membawa industri besar pencemar dan pemerintah daerah yang terobsesi pertumbuhan untuk sepakat. Chen mengatakan bahwa kabut asap yang dihasilkan di Beijing, 31 persen berasal dari kendaraan bermotor, 22,4 persen dari pembakaran batu bara dan 18,1 persen dari industri, menurut "China Environmental News" (Kabar Lingkungan Tiongkok), sebuah publikasi dari Departemen Perlindungan Lingkungan . Wang Junling, wakil pimpinan Institut Penelitian Perlindungan Lingkungan Beijing, mengatakan bahwa sekalipun polusi dari luar Beijing merupakan komponen utama dari asap, pesatnya pertumbuhan penduduk kota, penggunaan energi dan kegiatan ekonomi juga harus disalahkan atas memburuknya kualitas udara. Dia mengatakan kepada China Enviromental News bulan lalu bahwa dalam periode 1998-2012 , kegiatan ekonomi Beijing naik 6,5 kali dan jumlah kendaraan naik 2,8 kali. Selama periode yang sama ,penduduk kota itu melonjak 66 persen sementara konsumsi energi naik 90 persen. Kota ini berencana untuk mengurangi konsumsi batubara sebesar 13 juta ton pada 2017, turun dari sekitar 23 juta ton di tahun 2013 . Provinsi Hebei menggunakan sekitar 280 juta ton batubara tahun lalu dan bertujuan untuk memotong total penggunaan sebesar 40 juta ton pada periode yang sama. Beijing juga berencana untuk membatasi jumlah mobil di jalan-jalan menjadi 5,6 juta tahun ini, dan jumlah yang diizinkan hanya 6 juta pada 2017. Beijing juga mencoba untuk menegakkan larangan keberadaan kendaraan tua dengan standar bahan bakar yang lebih rendah. Pemerintah kota dalam sebuah laporan pekan lalu gagal memenuhi standar nasional dalam empat dari enam polutan utama yang dikontrol pada 2013 . Disebutkan konsentrasi PM2.5 berada pada rata-rata harian 89,5 mikrogram per meter kubik , 156 persen lebih tinggi dari standar nasional. Pada 2013, konsentrasi PM2.5 di 74 kota yang dipantau oleh pihak berwenang rata-rata 72 mikrogram per meter kubik ( cu m) , lebih dari dua kali rekomendasi standar nasional Tiongkok sebesar 35 mg / cu m. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026