Logo Header Antaranews Sumbar

Obama-Putin Berbeda Pendapat Soal Ukraina

Selasa, 15 April 2014 11:38 WIB
Image Print
Barack Obama

Washington, (Antara/Xinhua-OANA) - Presiden AS Barack Obama dan timpalannya dari Rusia Vladimir Putin, Senin (14/4), menyampaikan perbedaan pendapat tajam mengenai meningkatnya kerusuhan di Ukraina Timur, dan saling mendesak agar masing-masing membantu menghentikan kerusuhan itu. Menurut Gedung Putih, di dalam satu percakapan telepon dengan Putin atas permintaan Moskow, Obama menyampaikan "keprihatinan yang sangat besar" mengenai dukungan Rusia bagi tindakan kelompok bersenjata pro-Rusia. Ia meminta Putin meyakinkan kelompok itu agar mau meninggalkan gedung pemerintah yang mereka duduki di Ukraina dan menarik tentara Rusia dari perbatasan Ukraina guna meredam ketegangan. Namun Putin membantah bahwa Moskow mencampuri urusan Ukraina dan mendesak Amerika Serikat menggunakan pengaruhnya untuk mencegah pertumpahan darah di Ukraina. "Pihak Rusia menggaris-bawahi protes di Donetsk, Lugansk, Kharkov, Slaviansk dan kota besar lain di Ukraina Tenggara adalah akibat dari kurangnya keinginan dan ketidak-mampuan pemimpin di Kiev untuk mempertimbangkan kepentingan penduduk Rusia dan yang berbahasa Rusia," kata Kremlin di dalam satu pernyataan. "Presiden Putin menyeru Barack Obama agar berusaha sekuat mungkin untuk memanfaatkan peluang yang dimilik Amerika Serikat untuk mencegah penggunaan kekuatan dan pertumpahan darah," tambah Kremlin, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi. Selama percakapan telepon itu, Obama memuji Pemerintah Ukraina karena "bertindak dengan penahanan diri yang luar biasa" saat menanggapi retorika para pejabat Rusia dan upaya Kiev untuk menyatukan negeri tersebut dengan menyelenggarakan pemilihan presiden pada 25 Mei. Tapi Putin mengatakan Kiev mesti memusatkan upayanya untuk melibatkan semua wilayah dan kekuatan politik di Ukraina serta menyusun undang-undang dasar baru. Meskipun demikian, kedua pemimpin itu sepakat untuk terus mengupayakan cara diplomatik guna mempengaruhi situasi sebelum pembicaraan internasional mengenai Ukraina, yang dijadwalkan diselenggarakan pada 17 April di Jenewa, Swiss. Gelombang baru kerusuhan telah meletus di bagian timur Ukraina sejak akhir pekan lalu, saat pegiat pro-Moskow menduduki beberapa gedung pemerintah di Kota Besar Donesk, Lugansk dan Kharkov, dan menuntut referendum mengenai otonomi serta hubungan yang lebih erat dengan Rusia. Negara Barat mendukung pemerintah di Kiev dan telah mengancam akan menjatuhkan sanksi lagi atas Rusia. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026