Logo Header Antaranews Sumbar

22 Tahanan KPK Gunakan Hak Pilih

Rabu, 9 April 2014 13:04 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Sebanyak 22 orang tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggunakan hak pilih untuk memilih wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat 1 dan Dewan Perwakilan Daerah di Tempat Pemungutan Suara 21 di rumah tahanan KPK, Jakarta, Rabu. Mereka berasal dari Rutan Detasemen Polisi Militer (Denpom) Guntur Kodam Jaya yaitu sembilan orang dan Rutan KPK sebanyak 13 orang. Secara berurutan tahanan yang memberikan suara berasal dari rutan Guntur yaitu Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq, mantan bupati Gunung Mas Hambit Bintih, mantan staf Pusdiklat Manajemen dan Kepemimpinan Mahkamah Agung RI Djodi Supratman, mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya, mantan Kepaja Kejaksaan Negeri Praya M Subri, tim sukses Hambit, Cornelis Nalau Antun, mantan Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappepti) Syahrul R. Sempurnajaya dan mantan Wakil Rektor Universitas Indonesia Tafsir Nurchamid. Mereka tidak menggunakan baju tahanan saat memilih dan juga tidak berkomentar mengenai pilihan mereka, hanya Luthfi Hasan yang menyodorkan jarinya yang membentuk angka tiga, sesuai nomor urut PKS. Setelah tahanan dari Guntur selesai memberikan suara selanjutnya tahanan yang menempati Rutan KPK secara berturut-turut dimulai dari mantan Kepala Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar. "Ribut saja lo, kayak milih aja, pulang sana pilih nomor lima," kata Akil kepada wartawan sebelum mencoblos. Nomor lima menunjukkan nomor urut Partai Golkar, tempat ia menjadi politisi sejak 1999. Tahanan yang selanjutnya memilih adalah mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng. Namun Andi yang juga pernah menjadi Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut tidak menyampaikan komentar, ia pun hanya menunjukkan angka tujuh dengan jarinya, sesuai dengan nomor urut Partai Demokrat. Kemudian Deviardi yaitu pelatih golf mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini yang memberikan suara diikuti oleh advokat Mario C Bernardi. Tahanan berikutnya adalah Fathanah, orang dekat Luthfi itu sempat mengundang tawa para wartawan setelah mencoblos. "Ada berapa jumlah kotak ini?" kata Fathanah saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai pilihannya, kotak yang dimaksud adalah kotak tempat surat suara untuk anggota DPR, DPRD dan DPD yang berjumlah tiga, artinya ia memilih partai nomor tiga yaitu PKS. Mantan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini menjadi orang yang selanjutnya memberikan suara dilanjutkan Direktur utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi (TP CMMA) Budi Susanto. Tahanan yang ditunggu-tunggu adalah mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. "Orang yang saya pilih atau partai yang saya pilih biasanya menang. Masalahnya di daftar tidak ada nama Pak SBY, jadi tidak jadi saya pilih," kata Anas sambil tersenyum. Setelah Anas ada pengusaha Tubagus Chaeri Wardani alias Wawan kemudian advokat Susi Tur Andyani, direktur keuangan PT The Master Steel Manufactory Diah Soemedi dan Anggota Komisi II DPR dari fraksi Partai Golkar Chairun Nisa. Semua tahanan KPK sesungguhnya berjumlah 24 orang, namun satu orang yaitu mantan ketua Komisi XI dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Izederik Emir Moeis menggunakan hak suara di RS Harapan Kita karena masih terbaring sakit dan mantan Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Irjen Pol Djoko Susilo yang tidak memiliki hak suara. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026