
Kota Ukraina Tolak Tuntutan Pemerotes Pro Rusia

Kharkiv, Ukraina, (Antara/AFP) - Kharkiv, kota di bagian timur Ukraina, pada Selasa menolak semua tuntutan para pemerotes pro- Rusia di luar kantor-kantor pemerintah yang mereka telah kuasai dua kali pekan ini. Sejumlah petugas kebersihan berkerumun di lorong-lorong kantor pemerintah setelah para pengunjuk rasa diusir untuk kedua kali. Para pemerotes mengotori gedung itu dengan membuang sampah dan membakar beberapa kantor Senin malam. ketika berbicara kepada kantor berita AFP dari kantornya dalam gedung yang baru dibebaskan, Wakil Gubernur Vasiliy Khoma mengatakan tiap usaha bernegosiasi telah mengalami kegagalan sementara tuntutan para pemerotes "jelas tidak layak, tak mungkin dan tak sesuai hukum". Para pemerotes di kota itu, yang warganya berbahasa Rusia, hanya 40 kilometer dari perbatasan dengan Rusia, telah bergabung dengan kota-kota lain di bagian timur Ukraina menuntut referendum untuk memperoleh lebih banyak otonomi dari pemerintah di Kiev --yang cenderung ke Barat. "Setiap orang tahu ... bahwa dewan regional tidak punya kekuasaan untuk mengambil keputusan. Ini bukan sesuatu yang menurut hukum Ukraina mengenai pemerintahan otonomi lokal, dapat diputuskan oleh badan seperti itu," kata Khoma. Dia mengatakan para militan telah memutuskan di aula gedung pemerintahan itu untuk "menciptakan satu Republik Kharkiv", setelah keputusan yang dibuat sejawat mereka di kota Donetsk, yang masih menguasai gedung pemerintah di sana. "Para wakil rakyat dipilih dan ada sekitar 500 di antara mereka tapi apakah kamu berfikir bahwa orang-orang ini dapat mewakili kepentingan tiga juta orang di kawasan Kharkiv?" kata Khoma. Lebih tiga hari polisi anti-huru-hara berhadap-hadapan dengan sekelompok warga pro Rusia termasuk ratusan anak muda yang membawa kayu pemukul dan wanita lanjut usia yang marah. Pada siang hari para pengunjuk rasa meneriakkan kata-kata "Rusia, Rusia dan Re-fe-ren-dum" sementara ratusan polisi anti-huru-hara membentuk penghalang di sekeliling gedung itu. Ketika malam menjelang, kelompok militan merangsek dan berusaha masuk ke dalam gedung itu dan mendapat perlawanan dari polisi. Saat fajar menyingsing, polisi sekali lagi menghalau para pemerotes. "Dengan setiap serangan, situasi bertambah memburuk. Para pengunjuk rasa menggunakan senjata seperti petasan dan granat yang hanya mengeluarkan suara," kata Khoma mengenai eskalasi pada Senin malam. "Sekitar tengah malam mereka menyerang lagi dan menggunakan taktik sederhana untuk membakar ruang-ruang di dalam gedung. Asap mulai memenuhi gedung-gedung dan polisi tak dapat diam di sana lagi." Ketika polisi membersihkan gedung itu pada Kamis pagi, mereka menemukan tumpukan batu yang digunakan sebagai senjata dan juga logistik berupa makanan. Menurut Khoma, itu serangan yang terorganisasi dengan baik. Para pengunjuk rasa pro-Rusia tetap berada di luar gedung di Lapangan Pembebasan di Khariv, beretkad melakukan aksi baru. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
