
Para Penyerang Bunuh Lima Tentara di Kairo

Kairo, (Antara/AFP) - Para pria bersenjata membunuh lima tentara di satu pos pemeriksaan Kairo dalam serangan Sabtu pagi yang militer tuduh dilakukan kelompok Ikhwanul Muslimin. Serangan itu terjadi dua hari setelah para pria bersenjata membunuh seorang tentara di Kairo, sementara kelompok garis keras yang pernah mengepung Semenanjung Sinai meningkatkan sasaran mereka di ibu kota Kairo dalam satu kampanye yang menewaskan lebih dari 200 personil polisi dan tentara sejak militer menggulingkan presiden Mohamed Moursi Juli tahun lalu. Para penyerang Sabtu itu melepaskan tembakan ke polisi militer ketika mereka selesai sholat subuh dan kemudian menempatkan dua bom,kata militer dalam satu pernyataan. Para tentara agaknya memiliki sedikit kesempatan untuk membela diri mereka. "Mereka sedang berdoa," kata juru bicara militer Kolonel Ahmd Ali kepada AFP. Gambar televisi menunjukkan para tentara yang piket mengamankan satu bom dekat pos pemeriksaan di daerah Shubra al-Kheima, Kairo utara. Satu stasiun televisi swasta yang mengutip pernyataan seorang pejabat kementerian dalam negeri mengatakan salah satu dari bom-bom itu ditanam dekat satu mayat serdadu. Sebagisn besar serangan-serangan sejak Moursi digulingkan itu dilakukan di Sinai, tetapi dalam bulan-bulan belakangan ini para anggota kelompok garis keras meluas mencapai Delta Nil dan ibu kota Kairo. Pemerintah menuduh banyak dari serangsn-serangan itu dilakukan Ikhwanul Muslim di mana Moursi adalah salah seorang pemimpin pentingnya, yang menghentikan aksi kekerasan puluhan tahun lalu dan membantah terlibat dalam aksi itu. "Satu kelompok bersenjata anggota Ikhwanul Muslimin menyerang satu pos pemeriksaan polisi militer, yang menewaskan lima tantara cadangan," kata militer mengenai serangan Sabtu itu. Serangan-serangan paling seru, termasuk satu bom mobil ke satu kantor polisi di Kairo dan penembakan jatuh satu helikopter militer di Sinai, diklaim oleh Ansar Beit al- Maqdis (Partisan Jerusalem), satu gerakan jihadis yang berpangkalan di Sinai. Kelompok itu mengatakan serangan-serangan itu adalah satu pembalasan atas tindakan kejam pemeritnh terhadap para pendukung Moursi, yang Amnesti Internasional katakan menewaskan sekitar 1.400 orang. Moursi terpilih dalam pemilihan presiden yang demokratis pertama, setelah pemberontakan tahun 2011 yang menggulingan diktator Hosni Mubarak. Tetapi pada tahun ia bekuasa rakyat Mesir pecah akibat pergolakan kekuasan dan musim panas lalu militer menggulingkan dia pada saat aksi protes yang menuntut dia mundur. Sejak ia digulingkan dan ditahan, para pendukungnya melakukan unjuk rasa setiap minggu yang sering menimbulkan yang menelan korban jiwa dengan pasukan keamanan dan para musuh Moursi. Sementara itu militer mengerahkan pasukan dan kendaraan lapis baja di Sinai untuk memerangi aksi kekerasan yang meningkat, sering menargetkan pada para pria bersenjata dengan serangan-serangan udara. Para pengamat mengatakan operasi militer telah menyebabkan kelompok garis keras di Sinai,sejumlah dari mereka diilhami Al Qaida untuk melancarkan serangan-serangan di seluruh negara itu. Para anggota kelompok garis keras telah melakukan serangan pembunuhan terhadap para personil polisi di Delta Nil, termasuk seorang plisi yang mengawal salah seorang dari para hakim yang menyidangkan Moursi. Moursi, yang dipenjarakan setelah ia digulingkan, menghadapi tiga sidang terpisah karena dituduh terlibat dalam pembunuhan para pemrotes oposisi dan bekerja sama dengan kelompok garis keras untuk melancarkan serangan-serangan di negara itu. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
