
Juru Bicara: Utusan PBB Batalkan Kunjungan ke Krimea

PBB, New York, (Antara/Xinhua-OANA) - Asisten Sekretaris Jenderal PBB Urusan Hak Asasi Manusia Ivan Simonovic, yang saat ini berada di Ukraina, untuk sementara takkan pergi ke Krimea sebagaimana direncanakan, kata juru bicara PBB kepada wartawan di Markas PBB, New York, Selasa (11/3). "Simonovic berencana mengunjungi Lviv besok," kata Stephane Dujarric, Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, dalam taklimat harian. "Mengenai kunjungan ke Krimea, ia takkan pergi ke Krimea mengingat situasi logistik, terutama sehubungan dengan kenyataan bahwa bandar udara ditutup buat penerbangan dari wilayah lain Ukraina," kata Dujarric. Juru bicara itu menyatakan bandar udara utama Krimea di Simferopol ditutup bagi pengunjung dari wilayah lain Ukraina. Saat ini, katanya, bandar udara tersebut dan pertimbangan lain takkan memungkin Simonovic mengunjungi Krimea. Simonovic pergi ke Ukraina secara mendesak pekan lalu, atas permintaan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan berencana mengunjungi Bagian Timur, Barat serta Selatan negeri itu, termasuk Krimea, guna menilai situasi hak asasi manusia saat ini. "Simonovic melanjutkan misinya di Ukraina hari ini dan berada di Kharkiv," kata Dujarric, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu pagi. "Ia bertemu dengan pejabat pemerintah lokal di sana guna membahas langkah yang berkaitan dengan hak asasi manusia yang dapat membantu meredakan ketegangan, serta dugaan mengenai pelanggaran hak asasi manusia," kata Dujarric. "Ia juga bertemu dengan sejumlah wakil masyarakat sipil pro-Rusia serta pro-Ukraina." "Simonovic menilai situasi hak asasi manusia di wilayah tersebut. Ia juga menyerukan dihormatinya hak asasi manusia dan membahas berbagai pilihan bagi PBB dan mitra internasional untuk membantu memperkokoh kemampuan di lapangan, jika diperlukan," kata juru bicara itu. Krisis politik di Ukraina berpangkal dari kemarahan masyarakat sehubungan dengan keputusan presiden terdepak Viktor Yanukovych pada November tahun lalu untuk menangguhkan kesepakatan kerja sama dengan Uni Eropa guna memperoleh bantuan dari Rusia. Protes rakyat berubah drastis pada Februari akibat bentrokan berdarah antara pemrotes dan polisi. Republik Otonomi Krimea di Ukraina menjadi pusat ketegangan saat ini di negara Eropa Timur tersebut. Parlemen Krimea pada Kamis (6/3) melakukan pemungutan suara untuk bergabung dengan Rusia dan referendum tentang status Krimea direncanakan diselenggarakan pada 16 Maret. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
