
BPBD: Radius 3 Km Marapi harus Dikosongkan

Lubukbasung, (Antara) - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Yazid Fadhli mengatakan, radius tiga kilometer Gunung Marapi harus dikosongkan mengingat status gunung itu yang berada pada level waspada. "Status masih sama dan tidak berubah. Ini berdasarkan informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)," kata Yazid Fadhli saat menghadiri peringatan Hari Pemadam Kebakaran Nasional ke-95 tahun di Lubukbasung, Senin. Untuk itu, katanya, masyarakat Kabupaten Agam, Tanah Datar dan Kota Padang Panjang yang tinggal di sekitar Gunung Marapi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menambahkan, jumlah masyarakat yang tinggal pada radius lima kilometer sebanyak 30.000 jiwa dan radius tujuh kilometer sebanyak 50.000 jiwa. "Apabila status Gunung Marapi meningkat dari waspada ke siaga, maka warga yang berada di radius lima kilometer harus dievakuasi ke daerah yang lebih aman," katanya. Untuk menyikapi ini, dia berharap kepada pemerintah yang terdampak terhadap erupsi Gunung Marapi seperti Kabupaten Agam, Tanah Datar, Kota Bukittinggi dan Padang Panjang untuk melakukan koordinasi untuk membuat jalur evakuasi, lokasi evakuasi, simulasi dan lainnya. Koordinasi tersebut bertujuan agar penanganan bencana berjalan dengan baik dan meminimalisir korban jiwa apabila terjadi erupsi Gunung Marapi. "Ini merupakan kebutuhan mendesak di daerah itu," katanya. Ia menambahkan, ini yang dilakukan oleh kabupaten dan kota yang berada di Gunung Kelud, sehingga masyarakat sudah dievakuasi sebelum gunung itu meletus. Sementara tiga korban yang meninggal akibat erupsi Gunung Kelud, katanya, karena menghirup kabut asap yang mengandung zat kimia. "Saya akan membawa kabupaten dan kota yang berada di sekitar Gunung Marapi untuk melakukan studi banding ke Gunung Kelud dalam waktu dekat," katanya. Sementara itu Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumbar, Marzuki Ali didampingi Kepala Bidang Geologi Nazwir, mengatakan, abu vulkanis yang dimuntahkan Gunung Marapi mengandung selika (Si) dan besi (Fe). Kalau terhirup dan masuk pada paru-paru, selika dan besi ini tidak bisa diuraikan dan susah dibuang. "Itu menyebabkan masyarakat mengalami batuk-batuk dan ISPA. Penyakit ini tidak ada obatnya," tegasnya. Ia mengatakan, Sumatera Barat memiliki empat gunung api tipe A yakni, Gunung Marapi, Talang, Kerinci dan Tandikek. Lalu memiliki gunung api tipe B yakni, Gunung Talamau, Singgalang, Sago dan Pasaman. Gunung api tipe A ini, kata dia, sering mengeluarkan semburan awan panas, sehingga di daerah itu dibangun pos pemantauan. Sementara gunung tipe B tidak begitu mengeluarkan semburan dan tidak memiliki pos pemantauan. "Penyebab aktifnya gunung ini karena sering mengalami gempa tektonik," katanya. Pada kesempatan itu, Bupati Agam Indra Catri menambahkan dalam mengatasi ancaman erupsi Gunung Marapi, harus dibuat masterplan penanggulangan bencana erupsi Gunung Marapi. Dalam masterplan tersebut, katanya, dibuat jalur evakuasi, lokasi evakuasi, fasilitas yang ada di lokasi evakuasi tersebut. Masterplan ini terlibat kabupaten dan kota yang berdampak erupsi Gunung Marapi di bawah komando dari Pemprov Sumbar dan dikerjakan secara bertahap. "Saya sudah pernah membahas ini dengan kepala daerah yang berdampak terhadap erupsi Gunung Marapi," katanya. (*/ari/jno)
Pewarta:
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026
