
Pasukan Ethiopia di Somalia Sampai AU Ambil Alih

Addis Ababa, (ANTARA/AFP) - Pasukan Ethiopia akan tetap berada di Somalia sampai pasukan Uni Afrika (AU) yang memerangi militan garis keras mengambil alih, kata Perdana Menteri Hailemariam Desalegn, Rabu, ketika ia bertemu dengan presiden Somalia yang baru terpilih. "Kami menunggu sampai pasukan AMISOM (Misi Uni Afrika di Somalia) datang dan menggantikan kami, dan sebelum kami mendapat jaminan itu kami akan tetap menunggu di sana," katanya kepada wartawan. Hailemariam, yang memberikan pernyataan itu dengan didampingi Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud yang sedang melakukan kunjungan resmi pertamanya ke ibu kota Ethiopia, tidak memberikan batas waktu bagi penarikan pasukannya. Mohamud mengatakan, gerilyawan Al-Shabaab telah kalah -- meski banyak ahli mengatakan bahwa kelompok itu masih menjadi ancaman potensial. Presiden Somalia itu juga memperingatkan gerilyawan asing yang membantu kelompok tersebut agar segera meninggalkan negaranya. "Kami tidak punya hubungan dan kami tidak berniat memiliki hubungan dengan gerilyawan asing di Somalia," kata Mohamud. "Satu-satunya pilihan bagi mereka adalah meninggalkan negara (Somalia)." Pasukan dan tank Ethiopia memasuki Somalia pada November 2011 untuk memerangi gerilyawan Al-Shabaab dan merebut sejumlah kota utama, termasuk Baidoa. Pada waktu yang bersamaan, pasukan Somalia dan pasukan AU yang berkekuatan 17.000 orang juga memerangi gerilyawan garis keras itu dan berusaha terhubung dengan daerah-daerah yang dikuasai pasukan Ethiopia. Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. Pemerintah baru Somalia di bawah Presiden Hassan Sheikh Mohamud, yang mulai menjabat pada September, mengakhiri kekuasaan transisi delapan tahun dukungan Barat yang dikotori korupsi. Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama beberapa tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu. Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010. Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas. Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang. Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida. Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden. Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah yang saat itu dipimpin Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan beberapa tahun lalu lalu. Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai. Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
