
PM Afrika Tengah Bertemu Pemimpin "Anti-Balaka"

Bangui, Republik Afrika Tengah, (Antara/AFP) - Perdana Menteri sementara Republik Afrika Tengah Andre Nzapayeke pada Minggu (16/2) bertemu dengan para pemimpin kelompok militan Kristen "anti-Balaka", dan beberapa diantara para pemimpin kelompok itu menyatakan bahwa mereka "siap untuk bekerja sama". "Saya bertemu dengan para pemimpin militer 'anti-Balaka' untuk mendiskusikan dan melihat cara untuk mengintegrasikan kelompok mereka melalui sarana Negara," kata Andre Nzapayeke setelah melakukan pembicaraan dengan Anti-Balaka di sebuah hotel di Bangui. Menurut dia, beberapa pemimpin kelompok tersebut mengaku siap untuk bekerja sama dalam mengakhiri kekerasan sektarian, antara warga Kristen dan para mantan pemberontak Muslim, yang telah membuat negara itu "berantakan" menyusul adanya kudeta pada tahun lalu. Seorang wakil dari kelompok 'anti-Balaka' (yang berarti 'anti-parang'), sebelum keluarnya pernyataan dari Nzapayeke, mengumumkan bahwa ada perpecahan di dalam gerakan kelompok itu. "Kelompok 'anti-balaka' adalah satu kesatuan, tetapi muncul beberapa masalah dan saat ini ada perpecahan," kata kapten Joachim Kokate. "Hari ini ada beberapa faksi dalam kelompok 'anti-Balaka'. Kami ingin berbicara dengan perdana menteri tentang masalah keamanan," ujar Kokate. Ia pernah menjadi juru bicara dari sekelompok perwira yang tahun lalu berjuang untuk mengembalikan Presiden Francois Bozize ke pemerintahan, setelah Bozize sempat digulingkan dalam kudeta pada Maret 2013 oleh para pemberontak Seleka, yang sebagian besar Muslim. Dia mengatakan tujuan para pejuangnya adalah "untuk membuat Michel Djotodia pergi", dimana ia mengacu pada mantan pemimpin pemberontak Seleka yang mengambil alih kekuasaan dalam kudeta itu, namun terpaksa mundur di bawah tekanan internasional pada bulan lalu. "Pada saat dia (Djotodia) pergi meninggalkan Afrika Tengah, maka senjata-senjata pun akan 'diam' dan tidak perlu ada serangan lagi," katanya. Kokate mengatakan bahwa faksi-nya di 'anti-Balaka' sudah "siap untuk bekerja sama untuk memulihkan perdamaian" di Republik Afrika Tengah. "Kami juga berupaya untuk mengajak kelompok lainnya untuk bekerja sama dengan masyarakat internasional," tambahnya. PM baru Republik Afrika Tengah mengatakan, pihaknya merasa "senang dengan semakin berkurangnya jumlah ekstremis di antara 'anti-Balaka' yang setuju untuk merebut kembali tempat mereka di negara itu". Akan tetapi, Nzapayeke juga mengatakan bahwa ia tidak mengetahui gagasan yang jelas mengenai posisi dari gerakan kelompok 'anti-Balaka' untuk saat ini. Kelompok militan Kristen anti-balaka awalnya merupakan kelompok pertahanan diri yang dibentuk sebagai tanggapan terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh kelompok pemberontak Seleka. Namun, kekerasan terus berlanjut antara milisi Kristen dan kelompok minoritas Muslim, yang melarikan diri dari Bangui, ibukota Republik Afrika Tengah, guna mencari keselamatan. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
