Logo Header Antaranews Sumbar

RAPP Antisipasi Kebakaran Lahan

Selasa, 11 Februari 2014 19:34 WIB
Image Print

Jakarta, (Antara) - Produsen kertas dan bubur kertas PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bersiaga penuh mengantisipasi kebakaran lahan seiring mulainya musim kering di Sumatera. Presiden Direktur RAPP Kusnan Rahmin di Jakarta, Selasa menyatakan, menyiapkan brigade kebakaran yang sangat terlatih dan melakukan monitoring rutin melalui satelit untuk pencegahan kebakaran lahan. Dia menyatakan, saat ini adalah awal musim kebakaran hutan dan lahan, jika tidak segera diantisipasi, bisa mengakibatkan bencana kabut asap. "Seandainya tidak ada hujan dalam lima hari, maka kebakaran lahan bisa saja terjadi. Apalagi cuaca diperkirakan kering hingga pertengahan Maret mendatang," katanya. Menurut dia, maraknya pembakaran ilegal dengan sedikitnya curah hujan di Sumatera sejak akhir Januari lalu berpotensi menyebabkan kebakaran lahan. RAPP yang merupakan unit usaha Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) melaporkan telah terjadi kebakaran lahan di luar konsesi perusahaan telah mencapai lebih dari 320 hektare. Kusnan menambahkan perusahaan selalu melakukan patroli udara dan darat untuk memastikan upaya pencegahan kebakaran dapat optimal di area konsesi miliknya. Produsen pulp dan kertas kedua terbesar di Asia itu, telah berinvestasi untuk peralatan pengelolaan hutan tanpa bakar termasuk juga melakukan pelatihan-pelatihan pencegahan kebakaran. Selain itu perusahaan melakukan pendekatan yang proaktif dengan mengintegrasikan teknologi pengelolaan hutan lestari dengan sistem deteksi dini dalam manajemen pencegahan kebakaran. Pihaknya juga melakukan pelatihan terhadap masyarakat sekitar daerah konsesi yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk menumbuhkan kesadaran kebijakan pembukaan lahan tanpa bakar (no burn policy). "Masyarakat diajarkan bagaimana mendeteksi sedini mungkin adanya titik api yang dapat menyebabkan bahaya kebakaran hutan dan bagaimana merespon serta melakukan reaksi cepat untuk pemadamannya," katanya. Mitigasi penanggulangan bahaya kebakaran, tambahnya, penting dan perlu untuk disosialisasikan kepada MPA. Sampai saat ini perusahaan telah melakukan patroli melalui udara, air dan darat setiap hari. Pengoptimalisasian bantuan melalui heli, truk pemadam kebakaran serta patroli airboat yang dapat dilakukan di darat maupun di air. Sementara itu, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Raffles B Panjaitan menegaskan kebakaran hutan dan lahan harus ditekan serendah mungkin. Dia mengingatkan kebakaran hutan dapat menimbulkan kerugian yang yang sangat besar. Untuk itu, dia meminta seluruh komponen masyarakat tetap wasapada meski saat ini Indonesia sedang mengalami musim penghujan. "Perusahaan kehutanan dan perkebunan yang memanfaatkan sumberdaya lahan juga agar melengkapi sarana dan prasaranan pengendalian kebakaran hutan yang memadai," katanya. Kementerian Kehutanan menetapkan batas toleransi sebanyak 19.316 hot spot pada tahun 2014 untuk menekan kebakaran hutan dan lahan. Kemenhut memiliki target untuk mengurangi hot spot sebanyak 20 persen per tahun dibandingkan jumlah rata-rata titik api pada tahun 2005-2009 yang sebanyak 58.890 titik. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026