
Menteri Prancis Balas AS Soal Hubungan Niaga Iran

Paris, (Antara/AFP) - Kunjungan 116 tokoh usaha Prancis ke Iran adalah "taruhan" bagi masa depan dan bukan "usaha seperti biasa", kata menteri keuangan Prancis pada Rabu, membalas kecaman Amerika Serikat atas lawatan itu. "Itu bukan tentang melakukan usaha seperti biasa," kata Pierre Moscovici kepada wartawan dalam temu pengusaha di Paris, mengacu pada ungkapan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry ketika menelepon "rekan" Prancis-nya untuk mengeluhkan kunjungan tersebut. Perutusan Prancis itu, dengan perwakilan dari perusahaan besar, seperti, Total, Lafarge, dan Peugeot, adalah yang terbesar dari jenisnya dari Eropa sejak kesepakatan nuklir bersejarah dicapai dengan negara besar pada November memberi Iran bantuan terbatas dari hukuman melumpuhkan oleh Amerika Serikat dan Eropa Bersatu. Kepada Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius, Kerry menyatakan perjalanan itu -meskipun diselenggarakan melalui unsur swasta- "tidak bermanfaat" dalam mengirimkan pesan bahwa "itu bukan usaha seperti biasa" dengan Iran. "Sepertinya, bagi saya, isyarat kunjungan itu adalah sebaliknya, yang mengatakan, 'memenuhi kewajiban Anda dan, jika pada suatu hari terjadi, masalah akan berjalan baik," kata Moscovici. "Orang harus pasti tidak mengambil itu sebagai tanda kelonggaran atau persetujuan, tetapi sebagai taruhan bagi masa depan, yang bertumpu pada ketegasan dan perundingan. "Jika Iran pada suatu hari mengubah sikap, maka akan ada peluang niaga dan ekonomi berarti bagi semua negara," katanya. Perutusan Prancis itu adalah yang terkini dalam serangkaian duta perdagangan luar negeri untuk melancarkan jalan ke Teheran sejak kesepakatan November tersebut. Pada akhir bulan lalu, perutusan besar datang dari sesama anggota NATO Turki, dipimpin Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, yang menyatakan negara tetangga itu mengharapkan perdagangan lebih dari dua kali lipat menjadi tiga 30 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar 300 triliun rupiah) pada tahun depan. Perjanjian pada November antara Iran dengan P5+1 -Inggris, Cina, Prancis, Rusia dan Amerika Serikat ditambah Jerman- mengharuskan Iran mengurangi kegiatan nuklirnya untuk pengurangan terbatas hukuman. Kesepakatan enam bulan itu, yang mulai berlaku pada 20 Januari, dilanjutkan dengan merundingkan perjanjian terpadu, yang dapat mengakibatkan semua hukuman dicabut atas negara kaya minyak dan gas tersebut. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
