Logo Header Antaranews Sumbar

Inggris Sebut Serangan Bom Barel Suriah Kejahatan Perang

Selasa, 14 Januari 2014 07:00 WIB
Image Print

London, (Antara/Reuters/MNA/AFP) - Inggris pada Senin menuduh pemerintah Suriah melakukan "kejahatan perang lagi" dengan pemberondongan daerah sipil dengan bom barel - drum minyak atau silinder yang yang dikemas dengan bahan peledak dan pecahan logam yang diturunkan dari pesawat. Kelompok hak asasi manusia mengatakan perangkat rakitan itu telah membunuh ratusan warga sipil dalam perang saudara antara pasukan Presiden Bashar al-Assad dan tentara pemberontak. Amerika Serikat juga telah mengecam penggunaan bom barel tersebut. Pihak berwenang Suriah mengatakan mereka memerangi "kelompok teroris bersenjata". "Penggunaan senjata secara sembarangan ini belum kejahatan perang yang lain, itu jelas dirancang untuk menabur teror danmelemahkan kehendak penduduk sipil," kata Menteri Luar NegeriWilliam Hague kepada parlemen Inggris. Pada Desember, Rusia membuat marah para diplomat AS dengan memblokir Resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan mengutuk serangan-serangan rudal dan bom barel terhadap warga sipil di negara itu. Sementara itu laporan TV Alalam mengatakan, kelompok pemberontak menyerang lingkungan Homs di Suriah tengah, menewaskan sedikit-dikitnya 19 warga dan melukai beberapa orang lain. Pada Minggu, pemberontak menembakkan roket ke daerah al-Ghouta, Homs, menewaskan 13 warga dan melukai 18 orang lain. Mereka juga menembakkan mortir ke kawasan kota Karm al-Shami, menewaskan enam warga dan melukai beberapa orang lain, kata sumber itu menambahkan. Tentara Suriah dilaporkan menewaskan puluhan militan yang mencoba untuk mematahkan pengepungan militer di Homs pekan ini. Satuan tentara "dihadapkan pada kelompok teroris bersenjata" yang berusaha memasuki kawasan Khaldiya utara dari daerah yang dikuasai pemberontak di Kota Tua di tengah Homs. Menurut Kantor Berit SANA, tentara menewaskan 37 pemberontak. Dalam kesempatan lain di Baghdad, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon tiba di Baghdad a Senin untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat tinggi Irak mengenai perang di tetangganya, Suriah. Ban, yang kedatangannya dipastikan oleh televisi negara Irak dan masukan resmi Twitter badan dunia itu, dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Nuri Maliki dan Menteri Luar Negeri Hoshyar Zebari. Pembicaraan itu akan berpusat pada keadaan di Timur Tengah dan secara khusus pertumpahan darah di Suriah, kata pernyataan kantor Maliki. Kunjungannya itu berlangsung menjelang konferensi perdamaian tentang kemelut Suriah pada pekan depan di Swiss, yang dinamai Jenewa II, yang melibatkan pemerintah dan lawan dalam pembicaraan langsung pertama mereka. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026