Logo Header Antaranews Sumbar

Arsip visual Indonesia di halaman manuskrip

Senin, 5 Oktober 2026 14:20 WIB
Image Print
Salah satu iluminasi mushaf Minangkabau. (ANTARA/HO-Pramono)

Padang (ANTARA) - Manuskrip atau naskah kuno biasanya dibuka untuk membaca teksnya. Orang mencari ajaran agama, silsilah, cerita, hukum adat, surat kerajaan, atau pengetahuan yang pernah hidup pada zamannya. Namun, di sekeliling teks itu sering ada dunia lain yang tidak kalah penting: bunga, sulur, garis, bidang, warna, bingkai, bahkan pada sejumlah manuskrip, hiasan bersepuh emas. Unsur-unsur itu tidak hadir sebagai tambahan yang dibuat sekadarnya. Ia dikerjakan dengan ketelitian, selera, dan keterampilan yang menunjukkan bahwa halaman manuskrip juga merupakan ruang penciptaan visual.

Dalam ilmu pernaskahan, bagian semacam itu disebut iluminasi. Pada mushaf Al-Qur’an Nusantara, iluminasi dapat ditemukan pada halaman awal, tengah, dan akhir, kepala surah, serta tanda-tanda tertentu di tepi halaman. Bentuknya tidak seragam. Setiap daerah, bahkan setiap pembuat, dapat memperlihatkan pilihan bentuk dan susunan yang berbeda. Dari sini mulai tampak bahwa manuskrip tidak hanya menyimpan kata-kata.

Ragam Hias yang Lama Berada di Pinggir

Selama ini sejarah ragam hias Indonesia lebih mudah dikenali melalui batik, songket, tenun, ukiran kayu, rumah adat, perhiasan, dan berbagai benda kerajinan. Manuskrip jarang masuk dalam percakapan itu. Akibatnya, kekayaan visual di dalamnya seperti berada di pinggir pengetahuan publik, meskipun para sarjana telah lama mengkajinya.

Mushaf-mushaf Nusantara, misalnya, menunjukkan kecenderungan kuat pada motif floral. Polanya beragam dan tidak terpaku pada satu bentuk. Jika dibandingkan dengan banyak mushaf Timur Tengah yang lebih kuat menampilkan struktur geometris, manuskrip Nusantara memperlihatkan pengolahan tumbuhan, sulur, bunga, dan bentuk dekoratif yang lebih dominan. Perbedaan ini penting karena menunjukkan bahwa tradisi penyalinan kitab suci tidak serta-merta menghasilkan bahasa visual yang sama di setiap tempat.

Kekhasan daerah juga tampak cukup jelas. Aceh memiliki karakter iluminasi yang kuat. Sulawesi Selatan memperlihatkan cirinya sendiri. Di Minangkabau, beberapa corak iluminasi menunjukkan kedekatan dengan ragam hias yang dikenal pada ukiran rumah gadang. Halaman manuskrip, dengan demikian, tidak berdiri terpisah dari dunia visual masyarakat yang melahirkannya.

Sejumlah sarjana telah membuka jalan untuk membaca kekayaan itu. Annabel Teh Gallop penting karena memperlihatkan bahwa iluminasi manuskrip Melayu-Islam memiliki karakter regional yang dapat dikenali, sehingga sebuah manuskrip dapat dibaca bukan hanya dari teksnya, tetapi juga dari bahasa visualnya. Ali Akbar memberi perhatian besar pada mushaf kuno Nusantara, terutama kaligrafi dan iluminasi, dan dari kajiannya tampak bahwa sejumlah wilayah memiliki ciri visual yang cukup kuat. Mu’jizah kemudian memperluas medan itu melalui penelitian terhadap surat-surat Melayu beriluminasi abad ke-18 dan ke-19, sehingga perhatian terhadap iluminasi tidak berhenti pada mushaf.

Surat kerajaan, misalnya, ternyata tidak hanya menarik karena isinya. Tata letak, kepala surat, warna, bingkai, dan unsur dekoratifnya ikut membawa wibawa, selera, dan tanda budaya lingkungan yang melahirkannya. Dari sini semakin jelas bahwa iluminasi bukan sekadar pemanis halaman.

Semakin banyak contoh yang dibaca, semakin terasa bahwa istilah “hiasan” terlalu sederhana. Iluminasi memang memperindah halaman, tetapi ia juga merekam pilihan estetis suatu masyarakat. Cara membagi ruang, memilih warna, mengulang motif, dan mempertemukan teks dengan bingkai adalah jejak dari cara pandang visual yang hidup pada suatu masa. Oleh karena itu, iluminasi lebih menarik jika dibaca sebagai “arsip visual”: rekaman tentang bagaimana masyarakat masa lalu membentuk keindahan.

Dalam pengertian itu, manuskrip layak ditempatkan bersama batik, ukiran, tenun, arsitektur, dan seni hias lain sebagai salah satu sumber sejarah visual Indonesia. Di sinilah manuskrip berhenti menjadi benda yang hanya penting bagi filolog atau peneliti naskah. Ia masuk ke pembicaraan yang lebih luas tentang sejarah seni, identitas visual, dan bagaimana masyarakat di berbagai daerah mengolah bentuk.

Dari Halaman ke Kain

Sebagian khazanah itu kini mulai bergerak keluar dari ruang koleksi dan penelitian. Di Minangkabau, saya mencoba membawa berbagai iluminasi manuskrip ke wilayah penciptaan baru. Melalui proses stilisasi dan pengembangan desain, sumber-sumber visual itu telah melahirkan ratusan rancangan motif batik. Bentuk lama tidak disalin mentah-mentah. Yang dibaca terlebih dahulu adalah struktur dasarnya, lalu dipilih unsur yang dapat dikembangkan dan disusun kembali agar sesuai dengan bidang kain.

Pengalaman tersebut justru menimbulkan pertanyaan yang lebih penting daripada jumlah desain yang dihasilkan. Ketika sebuah motif berpindah dari kertas ke kain, apa yang tetap dibawanya? Jika yang diambil hanya bentuk luarnya, iluminasi mudah berubah menjadi ornamen tanpa ingatan. Padahal sebuah motif dapat mempunyai asal daerah, hubungan dengan tradisi tertentu, atau lahir dari lingkungan keagamaan dan sosial yang khas.

Oleh karena itu, pekerjaan berikutnya tidak cukup hanya menemukan dan mendokumentasikan manuskrip beriluminasi. Kekayaan tersebut perlu disusun sebagai bagian dari sejarah ragam hias Indonesia, lalu dibawa ke ruang yang lebih luas: museum, sekolah, ruang pamer, studio desain, bengkel perajin, dan kehidupan sehari-hari.

Manuskrip tidak hanya menyimpan apa yang pernah ditulis orang Indonesia. Di dalamnya juga tersimpan cara mereka memilih warna, membentuk bunga, menyusun garis, mengisi ruang, dan membayangkan keindahan. Jika ragam hias manuskrip terus diletakkan di pinggir perhatian, sebagian sejarah visual Indonesia akan tetap tinggal di dalam naskah: dikenal oleh peneliti, tetapi belum sungguh-sungguh menjadi milik publik.*

* Penulis merupakan Guru Besar Kajian Manuskrip Unand



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026