
Inggris Pastikan Kematian Warga Negaranya di Libya

Tripoli, (Antara/Reuters) - Inggris pada Jumat memastikan kematian salah seorang warga negaranya dan mengatakan mengetahui pula kematian seorang warga negara Selandia Baru di Libya barat, tapi tidak merinci keadaan mereka meninggal. Sumber keamanan Libya pada Kamis menyatakan seorang pria Inggris dan seorang wanita dari Selandia Baru ditemukan tewas dengan luka tembak di Mellitah, 100 kilometer barat Tripoli, di luar gugus besar minyak dan gas milik ENI Italia. Keamanan Libya memburuk dalam beberapa bulan belakangan karena pemerintah berusaha mengendalikan milisi dan suku, yang memiliki senjata sesudah membantu menggulingkan Muammar Gaddafi pada 2011. "Kami mengetahui kematian menyedihkan warga Inggris di Libya," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris, "Kami siap memberikan bantuan konsuler." Ia menambahkan bahwa mereka juga mengetahui kematian warga negara Selandia Baru, namun tidak ada rincian. Kementerian Luar Negeri Selandia Baru menyatakan mengetahui laporan bahwa seorang warga Selandia Baru tewas dan berhubungan dengan pemerintah Libya untuk memastikannya. Dalam kejadian terpisah, dua warga Amerika Serikat ditahan tentara Libya di kantor pusatnya di kota timur, Benghazi, kata beberapa sumber keamanan dan tentara kepada Reuters. Keduanya pebasket dan ditangkap di kampus Universitas Benghazi, kata sumber keamanan. "Mereka ditangkap oleh penjaga universitas dan kemudian dibawa oleh pasukan khusus ke barak tentara," kata sumber tentara. Pejabat Departemen Luar Negeri, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tripoli mengetahui laporan penangkapan tersebut dan berusaha memperoleh keterangan tambahan, tapi tak dapat memberi tanggapan lebih jauh dengan pertimbangan privasi. Pada pekan lalu, empat tentara Amerika Serikat ditahan pemerintah Libya dan dibebaskan beberapa jam kemudian, kata pejabat Amerika Serikat dan Libya. Setelah pemberontakan 2011, yang menggulingkan pemerintah Muamar Gaddafi, pejuang di Libya timur menyerang petugas keamanan, warga asing, hakim, pegiat politik serta pekerja media, yang menewaskan lebih dari 300 orang. Pada 5 Desember, seorang guru Amerika Serikat ditembak mati di Benghazi, 15 bulan setelah serangan mematikan terhadap konsulat negara adidaya tersebut di kota Libya timur itu. Korban tewas adalah pengajar di sekolah antarbangsa di kota itu, kata juru bicara badan keamanan Ibrahim Sharaa. (*/WIJ)
Pewarta: Antara TV
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026
