Logo Header Antaranews Sumbar

Peneliti BRIN tawarkan solusi inovatif tangani limbah Program MBG

Selasa, 5 Mei 2026 21:40 WIB
Image Print
Pekerja menyiapkan pakan untuk maggot dari limbah sisa Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Mutiara Keraton Solo (YMKS) di Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (16/12/2025). Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan SPPG Tamansari, Bogor dinilai layak menjadi model nasional berkat inovasi konsep zero waste atau bebas sampah dalam pengolahan limbah MBG untuk pupuk organik, budidaya maggot, pakan ternak, ekonomi sirkular dan standar higienitas yang konsisten bisa dipenuhi. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nym. (ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan dan Gizi Masyarakat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Basuki Rachmat menawarkan sejumlah solusi inovatif dalam memanfaatkan limbah dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam keterangan di Jakarta, Selasa, Basuki memaparkan berbagai teknologi yang dapat digunakan untuk mengolah limbah makanan menjadi energi.

"Teknologi pirolisis, gasifikasi, pencernaan anaerobik, dan hidrotermal karbonisasi mampu mengubah limbah organik menjadi produk bernilai, seperti biogas, biochar, serta energi listrik," katanya.

Selain teknologi modern, Basuki menilai metode sederhana tetap relevan, terutama untuk skala kecil.

"Pengolahan limbah organik dapat dilakukan melalui komposting, penggunaan bioaktivator, maupun pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mengubah limbah menjadi pakan ternak dan pupuk," ujarnya.

Basuki menambahkan bahwa pemilihan metode pengolahan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas. Sebab, setiap teknologi memiliki karakteristik, biaya, dan efektivitas yang berbeda.

Karena itu, pemilihan metode harus mempertimbangkan skala, jenis limbah, serta sumber daya yang tersedia.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan limbah pangan yang optimal tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.

"Dengan pengelolaan yang tepat, limbah pangan dapat diubah menjadi energi atau pupuk, sekaligus menekan emisi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya," ucap Basuki.

Basuki menekankan pengelolaan limbah pangan MBG perlu dioptimalkan melalui pemanfaatan teknologi mutakhir dan pendekatan ekonomi sirkular, sehingga setiap sisa makanan dapat diubah menjadi sumber daya bernilai tinggi.

Ia menyoroti temuan bahwa produksi limbah pangan di Indonesia mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun, yang sebagian besar berasal dari rumah tangga dan berdampak pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Maka dari itu, pengelolaan yang tepat menjadi sangat penting.

"Prinsip reduce, reuse, recycle, dan recover harus diterapkan untuk meminimalkan limbah serta memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Dengan cara ini, limbah tidak lagi dianggap sebagai sisa, melainkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali," tutur Basuki Rachmat.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Peneliti BRIN tawarkan solusi inovatif tangani limbah Program MBG



Pewarta:
Editor: Erie Syahrizal
COPYRIGHT © ANTARA 2026