Perbedaan "burnout" dengan "post holiday blues"

id post holiday blues ,burnout,kondisi emosional

Perbedaan "burnout" dengan "post holiday blues"

Ilustrasi - Sejumlah anak bermain di area bermain saat berkunjung ke Tebet Eco Park, Jakarta, Kamis (3/4/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/rwa/am.

Jakarta (ANTARA) - Kondisi burnout dan post holiday blues kerap disamakan lantaran dinilai berkaitan penurunan semangat bekerja atau belajar, namun Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog menyampaikan bahwa kedua kondisi tersebut memiliki perbedaan.

Burnout ditandai oleh kelelahan emosional, depersonalisasi atau sikap sinis, dan penurunan pencapaian personal, sedangkan post holiday blues tidak sampai mengubah sikap dasar terhadap pekerjaan atau sekolah,” kata Virginia Hanny, ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.

Psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu menjelaskan perbedaan kondisi burnout dan post holiday blues dapat dilihat dari durasi, penyebab, hingga perilaku individu terhadap pekerjaannya.

“Perbedaan yang umum antara keduanya bisa dari durasi, burnout bisa terjadi bahkan bertahun-tahun, sementara post holiday blues hanya bertahan beberapa hari sampai maksimal dua minggu,” tutur Virginia.

Virginia menjelaskan bahwa penyebab kondisi seseorang mengalami burnout bisa terjadi karena stres kerja berkepanjangan. Sementara pada kondisi post holiday blues bisa terjadi karena seseorang mengalami adanya transisi dari liburan ke rutinitas.

“Perilaku individu terhadap pekerjaan, seseorang yang burnout bisa apatis dan bahkan menarik diri dari pekerjaan dalam waktu yang lama, sementara individu yang mengalami post-holiday blues hanya merasa enggan untuk sementara,” ujar dia.

Lebih lanjut, psikolog yang berpraktik di Personal Growth itu juga menyampaikan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh individu dalam mengatasi kondisi tersebut seperti post holiday blues antara lain bisa dimulai dengan membangun kembali rutinitas secara bertahap, memperbaiki pola tidur dengan pola yang konsisten, hingga bisa membuat tujuan atau goals kecil.

“Mempertahankan hal-hal menyenangkan yang dilakukan saat liburan seperti olahraga ringan, menyempatkan waktu untuk melakukan hobi dan bersosialisasi dalam keseharian, menyadari bahwa emosi ini valid dan wajar, namun tidak kerap berlarut-larut, berdiskusi dengan orang-orang terdekat atau tenaga profesional,” tutur dia.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Perbedaan "burnout" dengan "post holiday blues"

Pewarta :
Editor: Erie Syahrizal
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.