Logo Header Antaranews Sumbar

Kelompok Garis Keras-Tentara Libya Bentrok, Sembilan Tewas

Selasa, 26 November 2013 14:33 WIB
Image Print

Benghazi, Libya, (Antara/Reuters) - Pasukan Libya yang berusaha menegakkan pengawasan atas seluruh negara itu terlibat baku tembak dengan kelompok garis keras di kota Banghazi, Senin, menewaskan setidaknya sembilan orang. Tentara baru Libya yang masih dilatih menghadapi satu tantangan dari kelompok garis keras Islam dan milisi yang ikut berperang dalam pemberontakan terhadap orang kuat Muammar Gaddafi tetapi menolak dilucuti senjatanya dan menguasai bagian-bagian dari negara itu. Suara tembakan dan ledakan dapat terdengar dari Benghazi dan asap tebal membumbung dari daerah Ras Obeida. Tentara memerintahkan penduduk tidak berada di jalan-jalan kota itu. Baku tembak meletus ketika satu kesatuan pasukan khusus angkatan darat mengejar seorang tersangka ke satu daerah di mana kelompok garis keras Islam Ansar al-Sharia mengoperasikan pos-pos pemeriksaannya sendiri, kata para pejabat keamanan kota Benghazi. Kota pelabuhan itu dihantam gelombang serangan bom mobil dan pembunuhan-pembunuhan. Setidaknya sembilan orang tewas dan 49 orang lainnya cedera dalam pertempuran itu, kata pemerintah Tripoli dalam satu pernyataan. Pemerintah mendesak penduduk Benghazi tenang sampai pasukan keamanan dapat membantu keamanan," kata pernyataan itu. Kelompok Islam itu menyalahkan tentara atas aksi kekerasan itu dan mengatakan pasukan khusus melepaskan tembakan ke patroli Ansar, kata satu pernyataan yang dipantau oleh badan SITE yang mengawasi kelompok-kelompok Islam. Situasi tenang pada hari itu tetapi penduduk yang marah menyerang satu gedung milik Ansar al-Sharia di Ajdabiya sebelah barat Benghazi, kata kantor berita Lana. Di tengah kota Benghazi sekitar 200 pemrotes terhadap kelompok Islam itu, meneriakkan "Tidak untuk Ansar," kata para saksi mata. Ansar al-Sharia dituduh melakukan serangan terhadap konsulat Amerika Serikat di Benghazi tahun lalu di mana duta besar AS dan tiga warga AS lainnya tewas. Kekacauan di Libya mengganggu tetangga-tetangganya dan negara-negara Barat yang mendukung pemberontakan yang mengguling dan membunuh Gaddafi dua tahun lalu itu. Perdana Menteri Ali Zeidan , yang sempat diculik sebentar oleh satu kelompok milisi bulan lalu , bertemu dengan Menlu AS John Kerry dan Menlu Inggris William Hague di London, Ahad untuk membicarakan kerja sama. Kelompok-kelompok yang bersaing mundur dari Tripoli pekan lalu setelah terjadi bentrokan senjata yang menewaskan lebih dari 40 orang dalam satu unjuk rasa ke salah satu pangkalan-pangkalan milisi untuk menuntut mereka meninggalkan ibu kota itu. Pemerintah yang mengharapkan kerja sama mantan petempur, menyewa kelompok-kelompok milisi yang setia kepada para komandan mereka atau suku-suku, dan sering bentrok dalam sengketa menyangkut daerah atau permusuhan pribadi. Militer Amerika Serikat, Inggris, Prancis, NATO dan Turki semuanya menjanjikan bantuan bagi angkatan bersenjata negara OPEC itu. Tetapi sebagian besar dari program-program itu hanya satu awal dan militer masih tidak menghadapi kelompok-kelompok bersenjata. (*/jno)



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026