
IAEA: Kecelakaan Fukushima Tak Pengaruhi Ekosistem Pasifik

Jakarta, (Antara) - Kecelakaan reaktor nuklir Fukushima, Jepang, pada bulan Maret 2011, tidak memengaruhi ekosistem di kawasan Lautan Pasifik, termasuk perairan Indonesia, kata pakar nuklir dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Ron Szymczak. "Terlepas dari dampaknya di pantai Jepang, untuk Laut Pasifik tidak sifnifikan karena angka kontaminasi radioaktifnya sangat rendah," kata Szymczak pada seminar tentang "Penguasaan Teknologi Pengelolaan Limbah" di Puspiptek Serpong, Banten, Selasa. Menurut dia, kontaminasi radioaktif yang signifikan adalah pada radius 30 km dari lokasi reaktor yang letaknya di pinggir pantai itu, sedangkan di luar jarak tersebut, angkanya tak lagi signifikan, apalagi untuk Indonesia yang ribuan kilometer dari Jepang. Ron Szymczak bersama timnya telah melakukan riset di 26 negara Asia Pasifik, seperti di perairan China, Filipina, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia selama dua tahun lebih terkait dengan terlepasnya unsur radioaktif Yodium-131 dan Cesium-137 ke udara dan ke perairan sekitar Jepang pascakecelakaan Fukushima. Riset tersebut, termasuk analisis besaran radionuklida pada berbagai spesies laut seperti plankton, alga, kepiting, udang, moluska, ikan pelagis, hingga mamalia seperti paus terkait dengan rantai makanan dan keselamatan manusia mengonsumsinya. Ia mencontohkan ikan dari orde Pleuronectiformes (flatfish) yang ditemukan 1 km di lepas pantai dari muara Sungai Ota pada bulan Agustus 2012 mengandung total Cesium-134 dan Cesium 137 sebesar 74 Bq/kg, ikan Seabass 68 Bq/kg atau kepiting 22,7 Bq/kg yang menunjukkan angka-angka tak signifikan. Ia mengakui adanya penemuan ikan "gogo" mengandung radionuklida Cesium hingga 25.800 Bq/kg, yang meskipun didapati berenang di jarak 1 km dari sungai Ota dengan bahagia, dinilai tidak aman dikonsumsi. "Akan tetapi, untuk lepas pantai angkanya sudah tak signifikan, misalnya, hiu dogfish di perairan sejauh 3 km lepas sungai Odaka, tak ditemukan unsur Cesium radioaktif. Apalagi yang lebih jauh dari itu. Untuk ikan yang biasa dikonsumsi seperti ikan kaleng yang diimpor Indonesia, sudah aman," katanya. Menurut Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Prof. Dr. Djarot Wisnubroto, hilangnya unsur radioaktif di perairan, selain dipengaruhi oleh faktor peluruhan unsur itu sendiri, juga karena faktor pengencer seperti hujan yang mambawa unsur tersebut ke laut sehingga memperkecil konsentrasinya hingga di bawah ambang batas. "Pelajaran dari kecelakaan Fukushima adalah pentingnya kita mencari tapak yang aman dan teknologi yang makin memperhitungkan keselamatan," katanya. (*/jno)
Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
