Logo Header Antaranews Sumbar

Badan Pengawas Senjata Kimia Raih Nobel Perdamaian

Sabtu, 12 Oktober 2013 09:51 WIB
Image Print

Oslo, (Antara/Reuters) - Badan pengawas senjata kimia yang bekerja untuk memusnahkan cadangan persenjataan kimia di tengah medan perang Suriah memenangi penghargaan Hadiah Nobel Perdamaian 2013 pada Jumat. "The Organitation for the Prohibition of Chemical Weapons" (OPCW), sebuah organisasi kecil dengan anggaran tidak banyak, baru-baru ini memberangkatkan sekelompok pakar ke Suriah setelah peristiwa seranga gas sarin menewaskan lebih dari 1.400 orang di dekat Damaskus pada 21 Agustus lalu. Pemberangkatan sekelompok pakar itu, yang didukung oleh Persatuan Bangsa-Bangsa, telah berjasa menghentikan rencana serangan Amerika Serikat ke rezim Presiden Bashar al Assad. Kepala komite Hadiah Nobel Perdamaian Thorjoern Jagland mengatakan bahwa pemberian penghargaan tersebut merupakan peringatan bagi beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Rusia untuk segera memusnahkan senjata kimia yang dimiliki, "terutama karena mereka meminta negara lain melakukan hal yang sama, seperti Suriah." Misi OPCW di Suriah merupakan misi yang bersejarah karena dilakukan di tengah perang saudara yang menewaskan lebih dari 100.000 orang. Beberapa anggota dari organisasi yang berkantor di Den Haag itu sendiri pernah ditembaki di Damaskus pada 26 Agustus lalu. Proses pemusnahan senjata kimia dapat membahayakan dan mahal. Bahan-bahan kimia dapat dibakar, namun harus dengan kehati-hatian agar racunnya tidak menyebar. Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan pada pekan ini bahwa senjata tersebut akan "berbahaya untuk ditangani, berbahaya untuk dipindahkan, dan berbahaya untuk dihancurkan." OPCW dibentuk pada 1997 untuk menerapkan Konvensi Senjata Kimia yang disepakati pada 1992, dan misi terakhir mereka sebelum berangkat ke Suriah adalah memusnahkan cadangan senjata di Irak dan Libya. Organisasi tersebut mempekerjakan sekitar 500 staf dengan anggaran tahunan kurang dari 100 juta dolar AS. Kepala OPCW Ahmet Uzumcu mengatakan kepada stasiun televisi NRK, "Saya yakin hadiah Nobel akan mendorong staf kami untuk menunjukkan apa yang dapat mereka lakukan untuk berkontribusi pada perdamaian dan keamanan dunia." Dia mengatakan bahwa 80 persen cadangan senjata kimia yang diketahu oleh OPCW, di luar Suriah, telah dimusnahkan. Senjata kimia dapat menyebabkan rasa sakit berlebihan dan kematian, serta dapat mudah menyebar dengan angin sehingga sangat membahayakan penduduk sipil. Senjata itu dapat membuat orang yang terkena tidak dapat bernafas, kulit terbakar, dan kejang. Penggunaan senjata kimia terbesar terjadi pada saat Perang Dunia I berlangsung. Pada tahun 1998 lalu, 5.000 orang tewas karena serangan gas oleh pemimpin Iraq Saddam Hussein di kota Halabja. Sementara itu di Suriah, OPCW mengatakan bahwa pemerintah setempat bekerja sama dengan baik dan dapat memusnahkan senjata kimia pada pertengahan 2014 jika semua pihak dalam perang saudara mendukung langkah tersebut. (*/wij)



Pewarta:
Editor: Antara TV
COPYRIGHT © ANTARA 2026