
Hipmi: Perkuat Fundamental Ekonomi Hadapi "Asean Community"

Jakarta, (Antara) - Pengurus Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Departemen Infrastruktur Laut dan Sungai, Muhammad Idrus menegaskan fundamental ekonomi Indonesia harus kuat untuk mencapai pertumbuhan berkualitas dan unggul dalam "ASEAN Community" pada 2015. "Partisipasi masyarakat juga mesti diperluas dalam kegiatan ekonomi. Dengan menyediakan hibah modal kerja kepada warga miskin yang bertekad untuk meningkatkan pendapatan keluarga, selain menggembleng keterampilan wirausaha," katanya di Jakarta, Senin. Ia menjelaskan, ketika melakukan dialog dengan pengusaha kecil di kawasan Jakarta Utara pada Minggu (8/9), disampaikan pula bahwa pada saat bersamaan perlu pemberian insentif kredit murah bagi pengusaha mikro dan kecil di sektor unggulan. "Dalam krisis moneter saat ini terbukti masyarakat kecil yang paling terkena dampak, tapi mereka akan 'survive' dengan beragam cara," kata pengusaha muda itu. Ia melihat prioritas kebijakan nasional sering tidak jelas. "Sebenarnya dua per tiga wilayah Indonesia itu lautan, sehingga potensi ekonomi maritim harus ditonjolkan, banyak sumber daya laut/sungai belum dioptimalkan," katanya. Indonesia menyebut diri negara agraris, tapi kenyataannya lahan pertanian berkurang dialihfungsikan, katanya. "Mestinya kita fokus dengan beberapa produk unggulan daerah tropis, seperti padi, jagung, rempah-rempah dan perkebunan teh atau kopi. Produk lain seperti kedelai, gandum atau daging sapi misalnya, diatur tata niaga impornya agar adil dan tidak mengancam kebutuhan rakyat," katanya. Idrus melihat peningkatan produksi pangan itu tanggung jawab Menteri Pertanian, sementara urusan impor pangan tugas Menteri Perdagangan. "Masalah kita sekarang impor telah menekan neraca perdagangan sehingga terjadi defisit, selain itu berefek mengurangi kesejahteraan petani, peternak dan pedagang produk terkait," katanya. Idrus yang juga Ketua Asosiasi Pedagang Valas se-Indonesia itu mengatakan bahwa untuk mencegah defisit yang melebar dan memperkuat mata uang rupiah, cadangan devisa terkuras, dan tinggal 93 miliar dolar AS. "Jadi, saatnya pemerintah tegas, terutama penentu kebijakan moneter (Gubernur BI) dan fiskal (Menkeu) agar tidak dipermainkan spekulan pasar," katanya. Walau sebagai pelaku pasar, Idrus memiliki nasionalisme tersendiri. Karena dalam kondisi ketidakpastian ekonomi yang diuntungkan hanya segelintir orang yang menguasai valas dan punya akses ke pemegang otoritas. Para pedagang kecil, kata dia, menyampaikan keluhan tentang sulitnya mendapat bahan baku atau memasarkan produk dengan harga terjangkau pembeli. Karena itu, Idrus yang dicalonkan PKS untuk jadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan DKI Jakarta melakukan advokasi kebijakan ekonomi rakyat. Ia mengaku sejawatnya dari kalangan pengusaha menyampaikan bahwa harus jelas mana kebijakan yang benar-benar pro-rakyat kecil dan mana yang hanya menguntungkan pemburu rente, termasuk mereka yang menikmati margin keuntungan dengan terjadinya depresiasi rupiah. "Jadi, komitmen bersama memang harus dibangun sejak sekarang," katanya. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
