Logo Header Antaranews Sumbar

Nato Desak Masyarakat Internasional Atasi Perpecahan Soal Suriah

Jumat, 6 September 2013 14:02 WIB
Image Print

Vilnius, (Antara/Xinhua-OANA) - Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Jenderal Anders Fogh Rasmussen, Kamis (5/9), menyeru masyarakat internasional agar mengatasi perpecahan dan menanggapi secara tegas dugaan serangan senjata kimia di Suriah. "Saya mendesak masyarakat internasional agar mengatasi perpecahannya mengenai Suriah. Masyarakat intenasional 'memiliki tanggung jawab' untuk melaksanakan dan memberlakukan larangan internasional mengenai penggunaan senjata kimia," kata Rasmussen setibanya untuk satu pertemuan tak resmi menteri pertahanan Uni Eropa. "Ini lah alasan mengapa serangan senjata kimi di Suriah tak bisa diabaikan. Ini lah alasannya mengapa kita memerlukan reaksi tegas internasional terhadap serangan ini," tambahnya. Pemimpin NATO berkeras bahwa "tak bertindak akan mengirim sinyal berbahaya kepada para diktator di seluruh dunia mereka dapat menggunakan senjata kimia dan barangkali senjata lain pemusnah massal tanpa reaksi apa pun dari masyarakat internasional", kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat siang. Namun, Rasmussen mengesampingkan keterlibatan NATO dalam serangan militer yang mungkin dilancarkan terhadap Suriah. Ia membatasi peran perhimpunan itu sebagai forum bagi konsultasi dan pembela anggotanya, Turki. "Jika ada negara yang mau bereaksi secara militer, saya akan menyarankan operasi militer yang singkat, terbidik dan disesuaikan. Dan untuk itu, anda tak memerlukan sistem kendali dan komando NATO," Katanya. Sementara itu, untuk pertama kali dalam lebih dari dua tahun pertumpahan darah di Suriah, Presiden AS Barack Obama telah menyatakan Suriah sebagai "ancaman keamanan nasional" yang harus ditanggapi dengan serangan militer. Setelah dugaan serangan senjata kimia pada 21 Agustus di pinggiran Ibu Kota Suriah, Damaskus, Gedung Putih mengumumkan perang saudara dua-tahun di Suriah sebagai "resiko utama bagi kepentingan Amerika". Jika AS gagal menanggapi, kata beberapa pejabat pekan ini, itu dapat "mendorong negara lain yang bermusuhan untuk menggunakan atau mengembangkan senjata pemusnah massal tanpa khawatir dihukum". Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengangkat kemungkinan simpanan senjata kimia Pemerintah Presiden Bashar al-Assad --yang dianggap sebagai salah satu yang terbesar di dunia-- bisa disita oleh sekutu, termasuk kelompok gerilyawan yang berpusat di Lebanon, Hizbullah. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026