Logo Header Antaranews Sumbar

Tiga Militan Tewas Dalam Serangan Udara di Yaman

Jumat, 2 Agustus 2013 05:25 WIB
Image Print

Aden, (Antara/Reuters) - Sedikitnya tiga terduga militan Al Qaida tewas Kamis di Yaman timur dalam serangan rudal yang ditembakkan oleh sebuah pesawat tak berawak, kata seorang pejabat pemerintah. Serangan itu, yang ketiga dalam waktu sepekan, dilakukan menjelang pertemuan Kamis di Washington antara Presiden AS Barack Obama dan mitranya dari Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi. Kedua pemimpin tersebut akan membahas kemitraan mereka dalam pemberantasan terorisme, kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan. Pejabat pemerintah Yaman itu mengatakan, dua roket ditembakkan ke sebuah mobil di provinsi Hadramout, Yaman timur, yang membawa ketiga militan itu. Ia tidak memberikan penjelasan terinci lebih lanjut mengenai hal itu. Sabtu malam, sedikitnya empat terduga anggota AQAP tewas dalam serangan pesawat tak berawak di provinsi Abyan. Tiga militan lagi, termasuk seorang warga Arab Saudi, tewas dalam serangan Selasa. AS tidak pernah secara resmi mengakui penggunaan pesawat tak berawak terhadap Al Qaida di Yaman, yang dianggap sebagai cabang paling aktif dan mematikan dari jaringan teror global itu dan menjadi pusat perang melawan teror. Militan Al Qaida memperkuat keberadaan mereka di kawasan tersebut, dengan memanfaatkan melemahnya pemerintah pusat akibat pemberontakan anti-pemerintah yang meletus pada Januari 2011 yang akhirnya melengserkan Presiden Ali Abdullah Saleh. Ofensif pasukan Yaman yang diluncurkan pada Mei 2011 berhasil menghalau militan Al Qaida dari sejumlah kota dan desa di wilayah selatan dan timur yang selama lebih dari setahun mereka kuasai. Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan. Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka. Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al Qaida di Semenanjung Arab (AQAP). AS ingin presiden baru Yaman, yang berkuasa setelah protes terhadap pendahulunya membuat militer negara itu terpecah menjadi kelompok-kelompok yang bertikai, menyatukan angkatan bersenjata dan menggunakan mereka untuk memerangi kelompok militan itu. Militan melancarkan gelombang serangan sejak mantan Presiden Ali Abdullah Saleh pada Februari 2012 menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya, Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang telah berjanji menumpas Al Qaida. (*/sun)



Pewarta:
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026