
Bekas Benteng Gaddafi di Tripoli akan Dijadikan Taman

Tripoli, (Antara/Reuters) - Bekas perkampungan tertutup milik Muamar Gaddafi di dalam kota Tripoli, tempat dia mengendalikan kekuasaan melawan Barat serta meremehkan rakyatnya sendiri selama empat dasawarsa akan diubah menjadi taman umum, kata Menteri Pariwisata Ikram Abdusalam Bash Imam, Selasa. Kompleks Bab al-Aziziya seluas enam kilometer persegi itu dilengkapi dengan kolam renang, sarana olahraga, vila-vila dan taman termasuk tempat persembunyian bawah tanah, kantor pemerintah dan bangunan untuk petugas keamanan. Sejumlah orang mengatakan betapa mereka takut melihat tempat itu pada masa lalu karena khawatir dilecehkan oleh petugas. Revolusi yang menggulingkan Gaddafi telah mengubah tempat itu menjadi reruntuhan. "Kami akan segera membuang puing-puing dari Bab Al-Aziziya dan menyisir keamanan di kawasan itu," kata Imam dalam jumpa pers. "Bab al-Aziziya akan menjadi kawasan hijau dan proyek ini akan dimulai sekitar dua bulan lagi." Kompleks itu mula-mula dibom oleh jet Amerika Serikat pada tahun 1986 sebagai pembalasan serangan bom oleh Libia ke diskotik di Berlin namun kemudian diluluhlantakkan pada Agustus 2011 oleh pasukan NATO yang membantu gerilyawan merampas kekuasaan di Ibukota. Pejuang gerilya menyerbu, menggulingkan patung-patung, membakar tenda bergaya Badui milik Khadafi, merampas senjata bahkan peringatan nama pasukan yang melakukan penangkapan di kompleks itu masih tertera dalam corat-coret di tembok. Dalam waktu beberapa jam kemudian, rakyat jelata juga membanjiri tempat yang sebelumnya terlarang dan dibentengi dengan dinding tinggi, untuk memeriksa vila-vila dan menjarah televisi layar datar atau mereka yang sekedar bergembira atas kejatuhan Gaddafi. Sebuah patung emas berbentuk tinju yang menghantam jet tempur yang didirikan oleh Gaddafi di luar gedung yang dibom pada 1986 yang dijuluki "rumah perlawanan" sudah dipindahkan ke kota pantai Misrata, yang dipertahankan selama tiga bulan oleh pengikut Gaddafi. Puluhan keluarga kemudian pindah menempati ke gedung-gedung yang masih berdiri di antara onggokan reruntuhan, dan secara perlahan lebih banyak orang yang berbagi tempat di Bab al-Aziziya --nama yang berarti "gerbang yang indah". Imam mengatakan, para keluarga yang menempati Bab al-Aziziya akan dipindahkan ke rumah baru setelah Ramadan, dan saat ini sedang dibangun. Namun, taman masa depan itu belum bisa dipastikan mengingat kekacauan masih melanda negeri itu yang dikendalikan oleh pemerintahan sementara yang lemah. "Bab al-Aziziya akan tepat menjadi taman dalam rancangan tata kota yang belum tetap," kata Imam. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
