Logo Header Antaranews Sumbar

Sedang tahap produksi, petani mulai dapat gunakan Padi Marapulai Agustus 2022

Jumat, 4 Maret 2022 14:36 WIB
Image Print
Sekretaris Dinas Pertanian Kota Payakumbuh, Ipendi bersama Sub Koordinator Produksi  Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Dan Perkebunan setempat, Reni Hasnayetti. (Antarasumbar/Akmal Saputra)
Kita sudah memproduksi benih intinya dan sudah panen,

Payakumbuh (ANTARA) - Varietas unggulan Kota Payakumbuh, Sumatera Barat yakni Padi Marapulai sedang dalam tahap produksi dan ditargetkan dapat digunakan oleh petani di daerah tersebut pada Agustus 2022.


"Kita sudah memproduksi benih intinya dan sudah panen. Hasil produksi benih inti ini yang akan kita kembangkan di UPTD Penbenihan dan Jasa Pelayanan Alsintan sampai nantinya menjadi benih sebar yang digunakan petani," kata Sekretaris Dinas Pertanian Kota Payakumbuh, Ipendi di Payakumbuh, Jumat.


Ia mengatakan bahwa varietas Padi Marapulai ini diperkirakan mulai dapat digunakan oleh petani di Kota Payakumbuh pada Agustus 2022.


"Agustus itu kita juga akan melakukan pengembangan dengan memfasilitasi petani di kecamatan-kecamatan. Pas ini nantinya masyarakat sudah dapat memperoleh benih tanam ke UPTD. Harganya di bawah harga pasar nantinya," katanya.


Disampaikannya bahwa SK pelepasan tanaman padi varietas Marapulai sebagai padi unggul lokal sudah diterima oleh Pemerintah Kota Payakumbuh dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia (RI) pada 29 Januari 2022.


Sementara itu, Sub Koordinator Produksi Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Dan Perkebunan setempat, Reni Hasnayetti mengatakan bahwa banyak keunggulan atau kelebihan dari Padi Marapulai.


"Salah satunya itu berasnya sesuai dengan selera masyarakat dan harga padinya ketika di jual termasuk padi yang mahal," ungkapnya.


Kelebihan selanjutnya, Padi Marapulai juga merupakan tanaman yang tahan terhadap serangan hama penyakit serta rata-rata potensinya lebih tinggi dari beberapa varietas lainnya yang dijadikan pembanding.


Untuk potensi hasilnya juga lebih tinggi dengan rata-rata hasil yang mencapai 7,1 ton per hektare. Ini lebih tinggi dibanding dengan lima varietas pembanding lainnya, seperti Junjuang 6,1 ton, Bujang Marantau 6,8 ton dan tiga varietas lainnya.


"Kalau dari anakan produktif juga paling tinggi dari lima varietas. Jumlah gabah per malai juga tinggi, yakni 370 butir per malai. Sedangkan daei lima varietas pembanding, yang paling tinggi itu 276 butir per malai," ujarnya.


Namun diakuinya bahwa kekurangan dari varietas ini adalah umurnya lebih panjang, yakni 145 hari termasuk masa semai. Sedangkan untuk varietas pembanding hanya 125 hari yang juga termasuk masa semai.


"Rencana ke depannya, untuk menutupi kekurangan ini, kita akan bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) agar dapat memperpendek umur Padi Marapulai," ungkapnya.



Pewarta:
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2026