
RS Bunda Capai 50 Kasus Bedah Robotik

Jakarta, (Antara) - Rumah Sakit Bunda Jakarta berhasil mencapai 50 kasus pertama bedah robotik (robotic surgery) setelah mengimplementasikan teknologi di bidang pelayanan kesehatan itu sejak awal 2012. "Sebagai rumah sakit pelopor yang mengimplementasikan teknologi terkini bedah robotik di Indonesia, RS Bunda Jakarta telah sukses menjalani 50 kasus bedah robotik, yakni proses operasi menggunakan robot yang dikendalikan oleh dokter bedah," kata Komisaris Utama PT Bundamedik Dr Ivan R Sini di Jakarta, Kamis. Pernyataan tersebut dia sampaikan pada jumpa pers Pencapaian 50 Kasus Pertama Bedah Robotic oleh RS Bunda Jakarta. Dia mengatakan keberhasilan praktik bedah robotik itu dapat menjadi dasar bagi perkembangan kedokteran di Indonesia. "Hal ini juga menunjukkan bahwa Indonesia mampu berkembang dan berada pada posisi penting dalam pelayanan kesehatan berbasis teknologi di Asia Tenggara," ujarnya. Dia menjelaskan pembedahan merupakan suatu opsi medis yang bertujuan menyembuhkan pasien, namun mempunyai potensi risiko yang berkaitan dengan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). "Oleh karena itu, upaya terus dilakukan agar jenis pembedahan apapun dapat dilakukan dengan risiko sekecil-kecilnya dan dengan hasil yang paling optimal, salah satunya melalui bedah robotik," kata Dr. Ivan. Menurut dia, sejak diperkenalkan pada awal 2012, teknologi bedah robotik telah menjadi pilihan yang menarik bagi pasien di rumah sakit itu dengan mempertimbangkan risiko akibat pembedahan yang cenderung lebih kecil dari risiko pembedahan biasa. Berdasarkan pengalaman aplikasi selama setahun, kata dia, bedah robotik terbukti efektif dan efisien bagi pasien karena dapat mengurangi besar luka, meningkatkan akurasi dalam operasi, yang akhirnya memberikan hasil operasi yang optimal. "Selain itu, angka nyeri akibat bedah robotik itu sangat rendah maka memampukan pasien untuk kembali beraktivitas jauh lebih cepat. Hal ini mengubah paradigma bahwa operasi bersifat menakutkan bagi pasien," ucap Ivan. Kepala "Advanced Robotic and Minimally Invasive Surgery" (ARMIS) RS Bunda Jakarta itu menceritakan pada awalnya belum banyak pasien yang mengetahui keuntungan dari bedah robotik tersebut. Namun, dengan strategi pengenalan dan pemahaman bedah robotik kepada para pasien dan pelatihan terpadu bagi tim dokter ARMIS, akhirnya makin banyak pasien yang memilih bedah robotik, katanya. "Prestasi ini sangat menggembirakan bagi kami. Sebagai pusat pelayanan kesehatan dan kedokteran, rumah sakit kami selalu mengedepankan fasilitas berbasis teknologi," tuturnya. Lebih lanjut dia mengatakan teknologi bedah robotik di rumah sakit itu memang belum dapat dipergunakan untuk semua jenis pembedahan terkait dengan faktor biaya yang tinggi. "Namun, sejauh ini sudah dipergunakan pada kasus yang kompleks, seperti operasi prostat, kista, dan rahim. Mungkin di kemudian hari operasi lainnya, seperti bedah jantung dan syaraf juga dapat dilakukan di Indonesia, seperti yang telah dilakukan di luar negeri," ungkapnya. Adapun kelima puluh kasus bedah robotik yang berhasil ditangani oleh tim dokter ARMIS adalah dua operasi prostat, 47 operasi rahim dan kandungan, satu kasus operasi saluran kemih dan gastrointestinal. Sementara itu, RS Bunda Jakarta telah memiliki 10 orang dokter yang sudah terlatih dalam melakukan bedah robotik. "Kami harap kedepannya dapat menangani kasus bedah kompleks lainnya, misalnya bedah kanker usus, bedah jantung, dan bedah syaraf," ujar Ivan. (*/sun)
Pewarta: Inter
Editor: Inter
COPYRIGHT © ANTARA 2026
